Tentang Nelayan

Nelayan adalah golongan dalam masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan. Ikan hasil tangkapan tidak lagi sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri untuk keluarga akan tetapi sebagian besar untuk tujuan dipertukarkan dengan kebutuhan hidup lainnya secara langsung atau dijual secara tunai di pasar. Mereka yang hanya mencari ikan untuk sekedar lauk-pauk tidak digolongkan sebagai nelayan.

Di Sepanjang garis pantai Indonesia yang sangat panjang, hidup jutaan rakyat yang menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan dan karena kemampuannya berlayar dengan ilmu navigasi turun temurunnya, mereka juga ambil bagian dalam perniagaan secara terbatas menghubungkan daerah-daerah yang terisolasi oleh lautan. Mereka secara tradisional telah menjadi penghubung pertama antara Jawa dengan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, Papua, Nusa Tenggara atau sebaliknya.

Di zaman VOC dan Pemerintahan Hindia Belanda mereka dengan berani menerobos patroli bersenjata Hindia Belanda untuk membawa rempah-rempah milik rakyat agar tidak dibeli murah secara monopoli oleh VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda.

Kaum nelayan di pesisiran menghadapi penindasan dan penghisapan feodal bahkan kapitalis dari para pemilik kapital besar seperti pemilik kapal besar dan alat tangkap besar serta modern. Nelayan ini juga menghadapi masalah peribaan yang sangat berat terutama pada saat angin kencang dan gelombang tinggi di mana intensitas melaut sangat terbatas.

Oleh para pemilik kapal mereka dipaksa menerima sistem bagi hasil tangkapan yang tidak adil, sementara nelayan miskin yang bekerja di kapal besar milik kapitalis mereka menghadapi masalah upah yang sangat rendah dan berbagai jaminan keselamatan selama proses penangkapan ikan berlangsung.

Karena peraturan negara reaksi yang hanya berpihak pada perusahaan penangkapan ikan berskala besar, nelayan miskin tidak memperoleh ikan yang cukup oleh karena perahu dan alat tangkap yang dimiliki sangat sederhana demikian pula dengan keterbatasan bahan bakar.

Nelayan kecil di daerah perbatasan dengan negara Philipina, Malaysia, Vietnam, dan Singapura juga menghadapi penangkapan oleh otoritas maritim negara-negara tersebut tanpa perlindungan dari pemerintah reaksioner. Hal ini semakin diperburuk oleh kebijakan baru pemerintah reaksi yang berusaha membatasi daerah tangkapan bagi nelayan kecil dengan berbagai alasan dan bukannya membatasi operasi kapal tangkap besar kapitalis.

Demikian juga di sepanjang daerah aliran sungai besar dan di sekitar danau. Mereka menangkap ikan untuk menghidupi keluarganya dengan cara-cara alamiah dengan memelihara lingkungan sungai dan danau tersebut agar tidak rusak. Saat ini mereka juga mengembangkan sistem budi daya sederhana untuk jenis ikan tertentu.

Negara reaksi merusakan aktivitas mereka dengan berbagai aktivitasnya yang anti rakyat dan anti lingkungan dengan pembangunan bendungan secara serampangan dan melepaskan berbagai bibit ikan tertentu yang membunuh ikas endemis sungai atau danau yang menjadi sumber hidup nelayan sungai dan danau tersebut secara turun temurun.

Daratan Indonesia juga memiliki rawa-rawa yang luas yang didalamnya juga mengandung ikan berbagai jenis dalam jumlah besar. Bahkan karena keterbatasan tanah, mereka juga membangun rumah di atas rawa-rawa pasang surut tersebut. Sekalipun ada aktivitas menanam padi dan palawija di tanah yang lebih tinggi atau pada saat air surut, menangkap ikan adalah pendapatan utama mereka untuk menhidupi keluarganya. Ini juga digolongkan sebagai nelayan.

Di dalam masyarakat setengah jajahan dan setengah feodal yang selalu menciptakan klas-klas dalam masyarakat, nelayan-nelayan ini juga telah terbagi dalam lapisan-lapisan, utamannya sebagai berikut:

1. Nelayan kaya. Adalah nelayan yang memiliki dan menggunakan kapal motor, jala ikan yang besar, dan perlengkapan pemancingan yang ikan yang lengkap. Mereka mempekerjakan nelayan miskin dan pendapatannya lebih dari cukup bagi keluarganya. Mereka merupakan bagian dari borjuasi kecil.

2. Nelayan Sedang. Mereka memiliki kapal sedang, jala ikan berukuran sedang, dan memiliki perlengkapan lainnya yang lebih sederhana jika dibandingkan dengan nelayan kaya. Penghasilan dari hasil tangkapan mereka hanya cukup bagi keluarganya. Dan dalam keadaan krisis ekonomi maupun karena cuaca buruk mereka dapat jatuh menjadi nelayan miskin. Secara klas mereka adalah borjuis kecil.

3. Nelayan kecil atau miskin. Mereka memiliki sampan kecil tradisional yang hanya mampu mengarungi lautan yang dekat dengan pantai di mana ikan sudah jauh berkurang. Penghasilannya sangat kecil sehingga untuk menutupi kekurangan pendapatannya, mereka bekerja dan berutang pada nelayan kaya atau lintah darat.

Nelayan ini juga dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan kapitalis yang memiliki kapal penangkapan besar yang modern dan dilarang menangkap ikan oleh tuan tanah di wilayahnya. Pemilik perusahaan penangkapan dan pengolahan hasil laut kapitalis (ikan, udang, rumput laut, dll) selalu menentukan harga di pasar secara murah dalam pembelian hasil tangkapan nelayan.

Kapitalis birokrat selalu mengutip uang ke nelayan dan memberikan ancaman jika tidak mampu memberikan konsensi yang dipaksakan.  Selain itu, nelayan kecil selalu diupah murah dan hanya menerima sebagian kecil dari pembagian hasil tangkapannya ketika bekerja bagi nelayan kaya dan pemilik  kapitalis. 

~ oleh Akang Muhib pada 24/05/2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: