Kebudayaan Rakyat Ditikam oleh Dua Tanduk: Kebudayaan Imperialisme dan Feodalisme

Perkara kebudayaan, dalam perspektif kita, adalah soal kunci yang akan membuka seluruh pandangan kita terhadap alam semesta dan masyarakat. Kunci pembuka yang akan menyinari seluruh ruang gelap dalam diri manusia, dari kedangkalan masa kanak-kanak maupun sikap konservatif dan ketertutupan subyektif yang digembok oleh dogmatisme.

 Dewasa ini, di tengah krisis imperialisme yang semakin kronis, kita menyaksikan berbagai penderitaan umat manusia yang semakin luas dan besar. Tak kalah hebat adalah penderitaan rakyat negeri semi-kolonial dan semi-feodal ini; bagaimana kemiskinan menggerogoti manusia demi manusia, mengubah perwatakan manusia, dari yang santun menjadi beringas, dari yang suka bekerja keras menjadi penjilat yang menghibakan, dan melahirkan kejahatan yang menikam korbannya hari demi hari. Kemiskinan juga menggerogoti keluarga demi keluarga, mengubah harmoni menjadi perceraian, persaudaraan dan cinta kasih menjadi sengketa dan dendam.

Dalam perspektif teritorial, jarak senjang struktural antara desa dan kota kini telah menghasilkan kemerosotan generatif seutuhnya masyarakat desa di satu sisi, dan berjubel, beraraknya lumpen-proletar dan semi-proletar di kantung-kantung miskin perkotaan.

Di hadapan mesin penghisapan dan penindasan kelas dari rezim kediktatoran bersama antara borjuasi komprador, kapitalis birokrat dan tuan tanah dalam skala negeri; rakyat dipaksa dalam situasi defensif secara total. Kemiskinan secara obyektif semakin mencekik leher. Dan semua kekejian itu belum cukup. Penderitaan rakyat yang sudah kelewat batas itu masih dikoyak oleh berbagai bencana; bencana geologis seperti tsunami, gempa bumi, maupun bencana hasil perbuatan manusia seperti pemanasan global, banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kecelakaan di darat, laut dan udara.

Inilah penderitaan kuadrat, yang semakin mencekik dan mencekam hidup rakyat. Nasib rakyat terjepit di ujung dua tanduk. Demikian rapat kematian mendekat.

Lantas apa jawaban rezim reaksioner ini dalam mengurus kehidupan rakyat tersebut? Konsisten dengan watak kelas rezim reaksioner ini, ia semakin mengasah dan melancipkan dua tanduknya. Pertama, tanduk kebudayaan imperialisme. Kedua, tanduk kebudayaan feodalisme dari abad tengah. Mari kita kupas satu demi satu persoalan ini.

Apa itu Tanduk Kebudayaan Komprador Imperialisme?

Lahir, tumbuh-berkembang, dan menguatnya kebudayaan imperialisme pimpinan Amerika Serikat di negeri kita tercinta tak bisa lepas dari lahirnya rezim komprador. Kebudayaan komprador jelas bukan kebudayaan rakyat. Secara isi dan bentuk keduanya berbeda dan bertentangan secara antagonis. Kebudayaan komprador dilahirkan oleh antek-anteknya di dalam negeri, rezim komprador yang disokong oleh imperialisme, dan ratusan tangan dan otak orang Indonesia yang telah dicor oleh propaganda nilai-nilai imperialisme. Mereka adalah putra-putri Indonesia yang mendapatkan penghormatan dari imperialisme AS, dengan modal super profitnya, mampu memberi beasiswa dan award-award di bidang pendidikan, sastra, musik, film, dunia hiburan, sosial, dsb.

Lihatlah, apa yang mereka bicarakan dalam puisi-puisi, novel, musik, dan film dihadapan kemiskinan dan penderitaan rakyat yang semakin kronis ini? Arti keindahan puisi dan novel hanya karena ia mampu mengutak-atik bahasa, gaya penuturan (stylistik) secara baru, selebihnya bicara tentang kelamin, dua bibir bertemu, dewa-dewi cinta, pahlawan-pahlawan rombengan ciptaan mereka, merayakan individualisme dan kebebasan semau-maunya.

Seluruh kesusastraan itu tak sepatah kata pun bicara soal rakyat, jutaan manusia sebagai subyek-subyek penderitaan itu. Pun juga di dunia musik, dari dangdut, pop, rock, pemuda-pemuda kita memetik gitar, menabuh kendang, menggebuk drum, dan jingkrak-jingkrak di panggung dengan suara gembrang-gembreng bertutur tentang ratapan cinta, perselingkuhan, anti-sosial, dsb.

Dari mana mereka menimba fantasi-fantasi itu? Lagu-lagu cengeng, picisan dan jorok yang diputar puluhan kali saban hari di rumah-rumah, angkutan umum, radio, televisi, dsb. Tak jauh beda dengan dunia film, sinetron, dan dunia hiburan.

Film percintaan dan horor menjejali pikiran dan perasaan generasi muda kita dengan sampah-sampah itu-itu juga yang didaur-ulang jutaan kali dan tak mengubah kenyataan; dunia sinetron mengajak rakyat bermimpi menjadi kaya di siang terik kemiskinan; dunia hiburan mengajak rakyat bertutur ngalor-ngidul tentang omong-kosong, mentertawakan kenyataan, menghina orang udik dari desa, melupakan kemiskinan seolah-olah hutang di warung terbayar dengan sendirinya, listrik menyala tanpa sumber energi yang kita bayar setiap bulan, minyak goreng, sayur-mayur, lauk-pauk terhidang di meja makan dengan sendirinya.

Itulah semua kebudayaan imperialis, kebudayaan yang menyelesaikan seluruh perkara hidup rakyat yang miskin ini dengan ratapan cinta, ranjang asmara, datangnya sang Hero, hantu pocong gentayangan, omong kosong dan tertawa. Itulah cara imperialis mendidik rakyat, pembodohan di depan layar kebudayaan mereka; pendidikan tentang cara penyelesaian soal-soal konkrit dengan melawan kodrat kenyataan obyektif itu sendiri.

Dari mana seluruh kebudayaan sampah itu datang dan mengotori rumah-rumah rakyat di negeri kita? Bila kita kumpulkan seluruh pencipta kebudayaan tersebut, mata-rantai dari produsen hingga agen-agen, dan pengecer kebudayaan maka bila kita berhasil menyobek topeng demi topeng, maka akan menyembul di atas kepala mereka sebuah tanduk lancip, keras, hitam warnanya; tanduk yang tumbuh dari dalam otak mereka yang telah dicor oleh nilai-nilai imperialisme AS. Bila kita membutuhkan pengakuan verbal mereka, mari kita ajak mereka diskusi untuk membelejeti karya demi karya, topeng demi topeng mereka; sampai akhirnya mereka tak berkutik dan mengakui dua pertanyaan kunci kita:

“Siapa majikan kamu?”

“Paman Sam.”

“Dari mana asal majikan kamu?”

“Dari negeri AS.”

Itulah yang kita sebut sebagai kebudayaan komprador. Kebudayaan yang telah mengucilkan lagu-lagu patriotis seperti Indonesia Raya, Bangun Pemudi-Pemuda, Maju tak Gentar, Tanah Airku. Lagu-lagu penuh martabat itu kini hanya eksis di dalam upacara-upacara bendera yang sudah kehilangan makna. Lagu-lagu patriotis-revolusioner yang dahulu kala dinyanyikan oleh rakyat dengan gegap-gempita penuh semangat untuk mengusir kolonialisme itu, kini tak pernah kita dengarkan keluar dari mulut pemuda-pemudi kita, tak pernah dijamah atau didaur-ulang oleh grup-grup musik pop paling terkenal sekali pun.

Kenapa? Karena mereka diasuh oleh rezim kebudayaan komprador. Rezim cara berpikir komprador yang anti-kenyataan, anti-rakyat, anti-sejarah, anti-perkembangan, anti-hari depan. Kata singkat untuk menjelaskan ini semua adalah rezim kebudayaan kontra-revolusi. Kebudayaan komprador adalah kebudayaan yang menindas dan mengucilkan kebudayaan rakyat yang patriotis, anti-imperialisme.

Rezim kebudayaan komprador saat ini semakin mengasingkan rakyat dari api perlawanannya, mengelupas isi dan watak kebudayaan rakyat dan diganti dengan kebudayaan imperialisme AS yang memuja individualisme dan kebebasan semau-maunya. Inilah kebudayaan yang sekarang sedang mendominasi dan menghegemoni negeri kita. Inilah satu tanduk yang harus kita ganyang sampai ke akar-akarnya agar tidak bercokol lagi di bumi kita tercinta ini. Tanduk dari raja iblis bernama imperialisme AS.

Apa itu Tanduk Kebudayaan Feodalisme?

Seiring dengan krisis imperialisme yang semakin kronis ditambah badai bencana yang menghantam rumah dan kehidupan rakyat, rezim kebudayaan komprador ini tak memiliki jawaban konkret kecuali meninabobokan rakyat dari amarah dan perlawanannya.

Cara yang khas dari ke-reaksioner-an rezim tuan tanah mereka adalah dengan mengeluarkan jurus lama, restorasi kebudayaan feodalisme yang usang dari Abad Tengah. Kebudayaan anti-nalar, anti-ilmu, anti-obyektifitas berupa penyesatan cara berpikir rakyat pada sistem kepercayaan dan agama-agama. Secara isi dan bentuk, kebudayaan kuno feodalisme ini juga berbeda dan bertentangan secara antagonis dengan kebudayaan rakyat.

Di lapangan sosial sekarang kita melihat bagaimana sistem takhayul dan agama kembali laris dipropagandakan, dijejalkan oleh presiden, menteri agama, para pengkhotbah keliling, dukun klenik, di tempat-tempat ibadah, radio, televisi, media massa, di tengah kemiskinan dan penderitaan rakyat.

Mereka mengajak rakyat untuk mencari pegangan pada hal-hal yang ghaib dalam mengarungi hujan-badai penderitaan kehidupan ini. Rakyat yang sudah miskin dan dicekik derita itu bukannya diajak bagaimana keluar dari kemiskinan tapi malah meratap pada keghaiban, melakukan pengakuan dosa, pertaubatan besar, dan mengemis surga yang tak ada di dunia kini namun surga di akherat kelak.

Seluruh kebudayaan sampah dari Abad Gelap itu, telah merantai nalar, kaki dan tangan umat manusia untuk tidak berbuat apa-apa kecuali mengemis pada Tuhan-tuhan ciptaan manusia dari Abad Tengah, melalui do’a dan dupa-dupa yang mereka panjatkan.

Apa itu Kebudayaan Rakyat?

Alam semesta atau dunia obyektif ini selalu nyata dan selalu terbuka pada siapa pun. Ia selalu setia pada setiap perkembangan dan tidak pernah tertutup. Dalam bahasa aforisme, alam semesta dan masyarakat ini ibarat ibu kandung dengan rahim yang melahirkan seluruh ilmu-ilmu pengetahuan.

Lihatlah, “Ibu Kebenaran” itu selalu tersenyum pada kita, selalu membuka diri, melambaikan tangan dan memanggil anak-anaknya untuk masuk dan terus masuk menyelami isi kenyataan ini sedalam-dalamnya; “Ibu Kebenaran” mengajari jari jemari tangan kita untuk menyempal bingkai-bingkai sempit kenaifan dan kebodohan agar kita bisa menembus keluasan cakrawala tak bertepi; “Ibu Kebenaran” mengajak kita mengarungi lembah dan ngarai bumi obyektif ini dengan riang gembira, bebas-merdeka tanpa ketakutan dan prasangka. Ia mengajari kita makan agar “gigi-gigi teori” kita yang baru tumbuh bisa berkembang semakin kuat untuk mengunyah kenyataan hingga selembut mungkin. Alam semesta dan masyarakat yang terus bergerak dan berkembang, mengajarkan kita seluruh hal-ihwal kenyataan yang hidup; itulah “Ibu Kebenaran” kita. Bukan dogma!

~ oleh Akang Muhib pada 17/04/2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: