Rumah Kaca (Buku IV Roman Sejarah Tetralogi Pulau Buru)

Rumah Kaca adalah roman terakhir dari Tetralogi Pulau Buru. Kalau roman pertama Bumi Manusia, merupakan periode penyemaian dan kegelisahan; roman kedua Anak Semua Bangsa adalah periode observasi atau turun ke bawah; roman ketiga Jejak Langkah adalah pengorganisasian perlawanan; maka roman keempat Rumah Kaca adalah reaksi balik dari pemerintahan Hindia Belanda yang melihat kebangkitan perlawanan meluas di tanah jajahan mereka. Tetralogi Pulau Buru ini mengambil latar belakang masa awal munculnya organisasi-organisai modern di Indonesia, tepatnya masa tahun 1898-1918.

Roman ini pun unik karena ada peralihan pusat penceritaan. Jika tiga buku sebelumnya penceritaan berpusat pada Minke, maka buku keempat ini penceritaan beralih pada seorang ahli arsip atau juru arsip bernama Pangemanann dengan dua n. Peralihan ini juga simbolisasi dari usaha Hindia melumpuhkan sepak terjang Minke yang tulisannya membuat banyak orang, dalam istilah anak bawang Minke, Marco, “moentah darah’. Sebenarnya tokoh Pangemanann ini telah dimunculkan pada bagian akhir buku ketiga “Jejak Langkah”. Ia adalah ‘musuh besar’ Minke. Buku keempat ini, secara garis besar, berkisah tentang usaha Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda dalam memonitor gerakan rakyat Indonesia.

Siapa Pangemanann? Pangemanann sendiri adalah seorang Indonesia yang bekerja untuk Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda. Jacques Pangemanann adalah seorang Menado yang diangkat anak oleh seorang apoteker berkebangsaan Perancis. Ia sempat kuliah di Sorbone selama dua tahun, dan kemudian menempuh Pendidikan Kepolisian. Ia datang ke Indonesia dengan pangkat Inspektur Polisi Tingkat-I, sebuah pangkat tertinggi untuk seorang pribumi. Oleh karena prestasi kerjanya, pangkatnya cepat meningkat menjadi Komisaris. Setelah beberapa tahun bekerja di lapangan, ia dipindahtugaskan untuk bekerja ‘di belakang meja’, di Kantor Algemeene Secretarie. Ia bertugas mengawasi dan mengendalikan organisasi-organisasi pribumi yang bermunculan saat itu. Tugas inilah yang membawanya kepada pertemuan dengan Minke, tokoh utama dalam tiga buku sebelumnya. Buku keempat ini dipenuhi oleh pergulatan Pangemanann dalam urusannya dengan Minke.

Pergulatan Pangemanann dimulai ketika ia menjabat sebagai Ajung Komisaris. Ia sendiri menyadari bahwa ia “makin jauh dari jalan yang dikehendaki oleh Tuhan”. Pergulatan makin hebat dialaminya ketika ia harus berurusan dengan Minke. Di satu sisi, ia bekerja dan menjadi hamba Guberment Kolonial Belanda demi nafkah dan kesenangan-kesenangan hidup. Di sisi lain, ia harus mengendalikan kegiatan Minke, yang diakuinya sebagai seorang yang sangat dihormatinya.

“Nuraniku tergoncang. Apa yang harus kulakukan terhadap dia? Dia bukan penjahat, bukan pemberontak… Dia hanya terlalu mencintai bangsa tanah airnya Hindia…”. Itulah gambaran awal pergulatan batin di diri seorang Pangemanann. Pergulatan batin itu terus menerus terjadi dan mewarnai seluruh buku ini. Dua kekuatan yang tarik-menarik, antara melaksanakan tugas dan menuruti nurani, terus menyertai kisah hidup Pangemanann.

Pangemanann senantiasa sadar akan dua kekuatan itu. Namun ternyata, tetap harus ada satu kekuatan yang menang atas kekuatan lain. Sayangnya, Pangemanann lebih memilih untuk melawan nuraninya. Ia lebih mementingkan pekerjaan dan nama baiknya daripada hal-hal yang lain, bahkan termasuk keluarganya. “Madame Pangemanann pergi, aku pun tak merasa kehilangan. Anak-anak pergi, aku pun tak merasa kehilangan. Mengapa aku akan merasa kehilangan kalau jabatanku punah dan kehormatanku di depan umum rusak?”

“Demi karierku, Minke, pimpinan Redaksi Medan harus disingkirkan. Dan demi nama baikku pula Suurhof juga harus dipunahkan.” Demikianlah akhirnya Pangemanann memutuskan pilihannya. Dia pun harus menanggung penyesalan dan gugatan nurani sepanjang sisa hidupnya.

Setiap pembaca pasti akan merasa dan dan menemukan aroma pergulatan batin dalam seluruh isi buku ini. Bahkan, pembaca dapat terbawa masuk dalam pribadi tokoh utama, yaitu Pangemanann. Pergulatan batin Pangemanann adalah pergulatan manusia pada umumnya, dari zaman mana pun. Pergulatan anatara menuruti atau melawan nurani senantiasa mewarnai perjalanan hidup manusia. Pramoedya dengan bahasa yang indah dan melalui sebuah fiksi sejarah, sungguh mengajak setiap pembaca untuk merenung, merefleksikan hidupnya, dan menghakimi diri sendiri. Sebuah karya sastra yang sayang untuk dilewatkan.

 

 

 

 

 

~ oleh Akang Muhib pada 12/04/2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: