Roehana Koedoes, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia

JIKA di Jawa tersebutlah nama Kartini sebagai pendekar wanita yang paling kondang, kaum perempuan di Sumatra juga punya idola yang tidak kalah harum namanya: Siti Roehana Koedoes. Kartini tidak sendiri lagi. Dari ranah Melayu, Roehana mengiringi perjuangan yang dirintis Kartini. Sejarah telah menggurat riwayat, Kartini melegenda berkat jasa baktinya memperjuangkan kaum perempuan, demikian pula Roehana. Kedua srikandi Indonesia itu menempuh jalan pendidikan demi mengentaskan perempuan dari pembodohan dan penindasan.

Sama yang dialami Kartini, cita-cita Roehana menemui jalan terjal karena desakan adat yang tak jarang menganggap rendah dalam memposisikan perempuan. Gugatan sentiasa merintangi misi Roehana, baik kecaman yang datang dari kalangan agamawan maupun pemuka masyarakat, terutama mereka yang berpikiran sempit dan anti kemajuan. “Tak ada pengorbanan suci yang sia-sia,” demikian Roehana meneguhkan hati.

Upaya Roehana demi mencerdaskan bangsa telah dirintis sejak belia. Pada usia yang masih sangat muda, Roehana sudah menjadi guru dengan menyediakan rumahnya sebagai sekolah dadakan bagi anak-anak perempuan. Pelajaran yang diberikan meliputi membaca, menulis, bahasa, budi-pekerti, agama, dan keterampilan menganyam. Roehana memacu semangat murid-muridnya untuk maju dengan meyakinkan bahwa perempuan bisa juga menjadi dokter atau guru. Roehana menganjurkan, dalam upaya mencari ilmu, perempuan lebih baik merantau seperti yang lazim dilakukan kaum lelaki Minang. Bagi kaum adat, gagasan ini jelas menyimpang. Tetapi nyali Roehana tak ciut. Baginya, emansipasi harus terus diperjuangkan demi kemajuan kaum perempuan.

Pada 1911, Roehana membuka sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di kota kelahirannya, Kotogadang, Sumatra Barat. KAS berkembang pesat dan menghasilkan barang-barang kerajinan berkualitas tinggi. KAS adalah sekolah perempuan pertama di Sumatra yang digagas langsung oleh perempuan. Roehana menjadi wanita Sumatra pertama yang dengan sadar memulai usaha memajukan kaum perempuan. Hebatnya, sekolah KAS yang dirintis Roehana masih bertahan hingga saat ini.

Selain sebagai pendidik, Roehana juga pantas disebut Ibu Pers Indonesia berkat perannya sebagai pelopor penerbitan koran perempuan pertama di Indonesia di mana perempuan mengambil peranan langsung dalam teknis penerbitannya.

Bisa jadi Roehana adalah wartawati pertama yang pernah ada di Nusantara. Rohana merupakan cikal bakal lahirnya wartawan-wartawan profesional di Sumatra Barat. Roehana tak hanya sekadar berperan sebagai “pemanis” dalam koran-koran yang dikelolanya. Lebih dari itu, dia memainkan lakon sentral sebagai pemimpin redaksi Soenting Melajoe, koran perempuan yang terbit di Padang sejak 10 Juli 1912, juga koran-koran bergenre emanisipasi wanita lainnya. Meskipun menjabat sebagai pemimpin redaksi, Roehana tak segan turun langsung ke bawah untuk meliput berita.

Roehana juga terlibat aktif dalam perintisan perhimpunan perempuan di Sumatra. Melihat tumbuh subur berdirinya organisasi perempuan di tanah Minang, Roehana lalu berinisiatif untuk mewadahinya dan menjadi motor pendeklarasian perhimpunan Sarikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS) sebagai wadah pemersatu berbagai organisasi perempuan Sumatra. SKIS resmi dibentuk di Padang pada 1911. Gebrakan Roehana ini sungguh menakjubkan. Pejuang perempuan sekaliber Kartini pun belum sempat mewujudkan ambisi ini. Lebih dari itu, Roehana mendirikan persatuan organisasi perempuan ini jauh sebelum Kongres Perempuan Indonesia digagas, yang kelak baru terlaksana pada 22-25 Desember 1928.

Ibu Pendidikan Perempuan Minangkabau

Siti Roehana lahir pada 20 Desember 1884, di Kotogadang, Sumatra Barat. Roehana berasal dari keluarga terpandang, dari salah satu jalur matrilineal tertua di Kotogadang, yakni keturunan Datuk Dinagari dari Puak Kato. Ayah Roehana, Moehammad Rasjad Maharadja Soetan, bekerja sebagai seorang hoofdjaksa (jaksa kepala), jabatan yang termasuk berkelas pada masa itu. Ayah Roehana pernah mendapat penghargaan dari Kerajaan Belanda.

Darah keluarga Rasjad memang tergaris profesi jaksa. Datoek Dinagari, kakek buyut Roehana, adalah jaksa pertama di Bukitinggi sekurun 1833-1836. Paman Roehana, adik Rasjad, juga seorang jaksa, begitu pula saudara-saudara lelakinya yang lain. Roehana adalah anak pertama Rasjad dari Kiam, istri pertama Rasjad. Dari Kiam, Rasjad memperoleh enam anak. Setelah Kiam wafat, Rasjad menikah lagi hingga lima kali. Salah satu anak lelaki Rasjad adalah Soetan Sjahrir. Dengan demikian, Sjahrir dan Roehana adalah saudara tiri lain ibu. Adik Rasjad, paman Roehana dan Sjahrir, adalah kakek dari Agus Salim, yang pada akhirnya nanti menjadi bapak bangsa Indonesia. Keluarga Roehana memang seolah-olah ditakdirkan sebagai agen untuk perubahan.

Semenjak kecil, Roehana sudah sering berpindah-pindah rumah, mengikuti tempat tugas ayahnya. Mulai dari Alahan Panjang, Padang Panjang, Simpang Tonang Talu (Pasaman), Jambi, kembali ke Padang Panjang, balik lagi ke Jambi, dan kemudian ke Medan. Ketika ibunya meninggal, Roehana kembali ke Kotogadang untuk mengasuh adik-adiknya.

Roehana sangat dekat dengan ayahnya. Julukan “Roehana anak ayah” pun disematkan kepadanya karena Roehana dianggap sebagai anak kesayangan. Rasjad memang berperan besar dalam proses pendewasaan Roehana dan berharap putri tercintanya itu akan tumbuh menjadi seorang perempuan yang berguna bagi keluarga dan bangsanya. Bakat revolusioner Roehana sudah terlihat sedari dini. Dia gemar membaca buku dan surat kabar, suka menulis, dan berlatih menyulam.

Berkat bimbingan sang ayah, Roehana dengan cepat menguasai ilmu-ilmu baru. Ayahnyalah yang mendidik Roehana dengan memberi surat kabar dan memesan buku, bahkan sampai dari Singapura, dengan aksara Latin, Arab, maupun Melayu, untuk dibaca Roehana. Roehana tidak pernah merasakan sekolah formal, karena harus hidup nomaden mengikuti sang ayah dan harus menjaga adik-adiknya. Jadilah Rasjad berperan sebagai ayah sekaligus guru bagi putri-putrinya, termasuk Roehana.

Ketika mengikuti ayahnya bertugas di Alahan Panjang, pengetahuan yang didapat Roehana bertambah lengkap. Keluarga Roehana bertetangga baik dengan seorang jaksa, Lebi Rajo nan Soetan, dan istrinya, Adiesah. Kebetulan keluarga kecil ini belum dikaruniai momongan. Keluarga Lebi Rajo kemudian berandil cukup besar dalam proses kreatif Roehana. Roehana kerap diajari membaca, menulis, serta merajut benang wol yang merupakan keahlian perempuan Belanda. Bermacam surat kabar dan buku yang terdapat di rumah Adiesah dilahap Roehana. Sementara di rumahnya sendiri, Roehana juga membaca buku milik ayahnya seperti buku sastra, politik, atau hukum. Beginilah cara Roehana mengenyam pendidikan.

Proses pembelajaran yang menyenangkan di Alahan Panjang cuma dua tahun dirasakan Roehana. Rasjad dipindatugaskan ke Simpang Tonang Talu gara-gara sikapnya yang kritis terhadap atasan. Di tempat tugas ayahnya sekaligus tempat tinggal keluarganya yang baru inilah Roehana memulai jejaknya sebagai seorang guru muda. Ini bermula dari kebiasaan unik Roehana—yang bakal menjadi trade mark gaya Roehana kecil menarik murid—yakni membaca surat kabar ataupun buku dengan suara lantang di depan orang banyak di tempat umum maupun di teras rumahnya. Ditambah gaya baca Roehana yang memikat pendengar hingga mereka dibuat tertawa terpingkal. Kiprah sang penyuluh segera dimulai.

Awalnya hanya dari kebiasaan Roehana membaca buku-buku dan koran dengan suara yang nyaring lagi lantang, namun siapa sangka kegemaran ini justru yang membuat lingkungan sekitarnya sadar bahwa Roehana sangat berbakat untuk menjadi guru. Mulanya tak puas mendengar, berangsur para tetangganya mulai tertarik belajar membaca dan menulis agar bisa membaca sendiri cerita yang diperdengarkan Roehana.

Ternyata umpan Roehana mujarab menjaring minat belajar orang kampung. Timbullah gagasan mendirikan sekolah di rumah, teras disulap menjadi tempat belajar sederhana, sedangkan ayah Roehana membantu pengadaan alat tulis yang dibagikan secara gratis. Cukup beralas tikar dan duduk bersila, pelajaran membaca dan menulis dimulai dengan Roehana sebagai guru. Ayah Roehana pun bersedia mengajar materi budi-pekerti dan agama.

Kegiatan belajar-mengajar yang berlangsung di rumah Roehana semakin riuh, dari anak-anak hingga para ibu muda terlibat proses pendidikan yang menggembirakan. Roehana mulai memperkaya materi pengajaran. Tak hanya membaca dan menulis saja, tapi juga pelajaran agama dengan menyertakan belajar membaca dan menulis Arab agar tidak sekadar menghafal, sebagaimana pelajaran agama di surau-surau. Nenek Roehana, Tuo Sarimin, turut andil dengan memberikan pelajaran keterampilan menyulam, sementara Tuo Sini, adik neneknya yang selain pintar mendongeng juga mengajar anyam-menganyam.

Keteladanan seorang guru akan menjadikan guru sebagai pendidik yang mampu memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan semua dimensi kemanusiaannya. Maka dari itu, Roehana mengasah pengetahuannya dengan lebih banyak membaca buku dan berlangganan surat kabar, termasuk media terbitan luar negeri. Dengan banyak menjamah bacaan asing, Roehana kian menyadari perbedaan nasib perempuan di dalam negeri dengan kondisi perempuan di luar negeri. Roehana mendapati tak hanya lelaki yang bisa menikmati pendidikan, tapi juga kaum perempuan.

Perempuan di negeri nun jauh di sana bisa memperoleh gelar sarjana, bekerja di kantor, menjadi guru, serta boleh menyatakan pendapatnya untuk turut menentukan masa depan bangsa. Kondisi kaum perempuan di dalam negeri sangat berbeda, masih dibatasi dengan aturan adat. Keadaan ini mengundang rasa prihatin dan memunculkan hasrat Roehana untuk memajukan kaum perempuan, yakni melalui jalur pendidikan dan pers.

Pengetahuan dari bacaan-bacaan luar negeri diterapkan Roehana saat mengajar dengan membeberkan nasib perempuan di Eropa yang jauh lebih baik. Sekali lagi, Roehana menegaskan perlunya perempuan Minang untuk merantau demi mencari ilmu. Bila perempuan tak berani membuka pikirannya, kata Roehana, maka dia akan tersingkir dari perhatian laki-laki karena pria Minang lebih menyukai perempuan yang pintar. Pikiran Roehana tentang perempuan merantau dianggap menyimpang dari adat karena berani memasukkan perempuan dalam lingkaran rantau yang mutlak dipunyai lelaki. Tapi begitulah ciri pelopor, pikirannya pasti melampaui orang kebanyakan pada zamannya.

Menjalani peran sebagai penyuluh kaum perempuan dilakoni Roehana cukup lama, sejak belia hingga Roehana berusia 24 tahun. Selama kurun waktu itu, Roehana telah melakukan banyak gebrakan untuk mendidik kaum perempuan. Jasa terbesar Roehana tentu saja ketika mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Kotogadang pada 1911. Sekolah yang mendidik keahlian anak-anak perempuan ini merupakan tindak lanjut dari dideklarasikannya perkumpulan perempuan Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911 di mana Roehana ditunjuk sebagai ketuanya. Di bawah tangan halus Roehana, KAS berkembang pesat. Para istri pejabat Belanda tertarik dengan hasil kerajinan siswi-siswi KAS yang kualitasnya telah layak ekspor.

Kegemilangan yang ditoreh Roehana tersiar ke berbagai penjuru. Hingga datang undangan bagi Roehana untuk ke Eropa untuk ikut dalam Internationale Tentoonstelling yang akan dihelat di Brussel, Belgia, pada 1913. Internationale Tentoonstelling adalah ajang pameran kerajinan tahunan yang diikuti oleh peserta dari banyak negara. Ini adalah kesempatan emas Roehana untuk memamerkan sulam terawang karya perempuan Kotogadang sehingga akan dikenal lebih luas. Namun, gara-gara fitnah dari pihak-pihak yang dengki, Roehana batal ke Eropa, padahal kabar rencana keberangkatan Roehana telah disiarkan luas.

Wartawati Indonesia Pertama

Gagal ke Eropa, spirit Roehana tak surut. Justru aksi jegal yang dialaminya dijadikan pelecut untuk semakin maju. Roehana bertekad untuk terus membimbing bangsanya menuju pencerahan. Kali ini pena jadi pilihan senjatanya. Kegemarannya membaca membuatnya terpantik untuk turut menulis. Ini suatu keputusan berani mengingat kala itu tak banyak perempuan yang berkecimpung di semesta media. Roehana adalah salah seorang srikandi pertama yang memulai tradisi pers di Sumatra Barat, pelopor jurnalisme perempuan Minangkabau.

Semasa menjadi guru, Roehana mengajari para muridnya menulis maupun menyadur cerita dalam bentuk syair yang memuat kearifan. Selain itu, Roehana mempunyai kebiasaan menulis catatan harian atau semacam memoar yang berisi keluh-kesah, juga apapun yang dialaminya dalam kehidupan sehari-hari. Kegemaran membaca dan menulis inilah yang kemudian membuatnya berani mencoba mengirimkan hasil pemikirannya ke beberapa surat kabar.

Ketika Poetri Hindia terbit perdana pada 1908 di Batavia dan lantas dianggap sebagai koran perempuan pertama di Indonesia, Roehana ikut antusias menyambut kemajuan ini. Beberapa kali dia menjadi kontributor koran perempuan yang hadir berkat gagasan Tirto Adhi Soerjo itu. Bisa jadi Roehana adalah wanita Indonesia yang secara sadar memerankan dirinya sebagai seorang jurnalis, yang bersedia meliput berita sekaligus menulis untuk kemudian dikirimkan ke media massa. Kebanyakan, para perempuan yang terlibat di dunia jurnalistik kala itu cuma sebatas sebagai “pemanis” semata, tanpa perlu susah-susah bersadar diri dalam melakoni tugas-tugas jurnalistik.

Setelah Poetri Hindia tutup buku karena Tirto Adhi Soerjo terlibat beberapa perkara delik pers dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda, Roehana kemudian berpaling pada Oetoesan Melajoe yang sudah terbit sejak 1911. Roehana mengirim surat kepada Datoek Soetan Maharadja alias DSM, pemilik Oetoesan Melajoe sekaligus tokoh pers terkemuka di Sumatra Barat.

Gayung bersambut, DSM ternyata sama kepincutnya terhadap Roehana, DSM mengikuti dengan cermat segala sepak-terjang Roehana, baik lewat gerakan-gerakan Roehana di bidang pendidikan dan emansipasi perempuan ataupun ketajaman kalam Roehana yang dimuat di sejumlah surat kabar. Saking tertariknya, orang sepenting dan sesibuk DSM sampai rela datang ke Kotogadang demi langsung menemui Roehana.

Hati Roehana terang girang bukan kepalang, dia segera menyampaikan keinginannya kepada DSM yang dijuluki raja pers Minangkabau itu. Roehana tidak main-main dalam hal ini, bahkan dia dengan tegas menyatakan ingin menerbitkan surat kabar khusus perempuan. “Keinginanku sebenarnya bukanlah sekadar meminta ruangan kaum ibu dalam surat kabar Oetoesan Melajoe yang bapak pimpin, tetapi kalau boleh ya penerbitan surat kabar yang istimewa untuk perempuan,” pinta Roehana. Setelah berembug, mereka kemudian bersepakat untuk menerbitkan koran khusus perempuan yang hingga saat itu belum pernah ada di Sumatra.

Tanpa lebih banyak basa-basi, meluncurlah edisi perdana Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912. Roehana dipercaya untuk mengendalikan surat kabar ini sebagai pemimpin redaksinya. Inilah perempuan Indonesia pertama yang secara langsung memimpin surat kabar dan secara teknis sangat terlibat dalam tiap-tiap terbitannya. Bersama Roehana, duduk pula nama-nama srikandi lain di jajaran keredaksian Soenting Melajoe, seperti Zoebaedah Ratna Joewita binti Datoek Soetan Maharadja yang berkedudukan di Padang serta Roehana binti Maharadja Soetan yang mengasuh biro Soenting Melajoe di Bukitinggi. Ratna Joewita, anak perempuan DSM, sudah cukup kenyang pengalaman karena pernah menjadi penulis di Poetri Hindia, sama seperti yang pernah dilakoni Roehana.

DSM sendiri adalah sosok kontroversial. Pada 1911 itu, DSM, jurnalis kawakan Melayu sekaligus pemuka adat, terlibat perselisihan dengan kaum ulama pembaharu. DSM menggunakan Oetoesan Melajoe untuk melawan jurnal Al-Moenir milik golongan Islam modernis. Al-Moenir mengkritik tentang semua yang dianggap tabu kaum adat, dan sebaliknya, DSM tak henti-hentinya menyerang musuhnya dengan menyebut mereka sebagai kaum paderi.

Kendati bertipikal keras, DSM ternyata peduli emansipasi perempuan. Pada 1908, DSM memprakarsai Pekan Raya Melayu di mana diperkenalkan sekolah penenun pertama untuk perempuan, Padangsche Weefschool. Selanjutnya pada 1912, DSM berkampanye untuk meningkatkan status kaum hawa melalui perluasan kesadaran dan pendidikan. Realisasi dari upaya itu, DSM sekali lagi membangun sekolah-sekolah tenun di beberapa tempat di Sumatra Barat. Kepedulian DSM terhadap kemajuan perempuan inilah yang menjadikan Roehana sangat respek kendati DSM adalah juga seorang tokoh adat yang cukup konservatif.

Perbedaan Soenting Melajoe dengan Poetri Hindia cukup jelas. Kendati Poetri Hindia merupakan koran perempuan pertama di Indonesia tetapi secara teknis jalan redaksinya ini justru dikendalikan langsung oleh Tirto Adhi Soerjo. Untuk mengesankan sebagai koran khusus perempuan, sederet nama wanita terpandang dipasang di jajaran keredaksian Poetri Hindia. Namun tulisan Tirto Adhi Soerjo, selaku pemilik Poetri Hindia, masih sangat sering muncul di koran perempuan ini.

Sedangkan Soenting Melajoe berbeda. Meski DSM menjadi salah seorang penggagasnya, DSM tidak ikut campur dalam teknis keredaksian. DSM menyerahkan seluruh penggarapan Soenting Melajoe kepada Roehana sebagai pemimpin redaksinya. Inilah yang menjadi puncak pencitraan Roehana sebagai perempuan Indonesia pertama yang berprofesi sebagai wartawan. Awalnya, kerja Roehana hanya memetakan pemikirannya sembari merilis berita dan tulisan dari koran-koran luar negeri untuk ditampilkan di Soenting Melajoe. Namun kemudian Roehana benar-benar menjalani tugasnya sebagai wartawan. Roehana tak jarang bolak-balik Kotogadang-Bukitinggi untuk meliput peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Roehana menemukan alasan kuat mengapa tertarik terjun ke dunia jurnalistik. Pertama, perasaaan bangga karena dengan menjadi wartawan dapat bertemu dengan para tokoh besar. Kedua, kerja-kerja menulis seorang wartawan adalah ruang untuk memerdekakan pikiran, bahkan bisa untuk mengkritik atau mengkoreksi hal-hal yang dirasa tidak benar dan dianggap perlu diketahui oleh khalayak. Ketiga, kewajiban seorang wartawan untuk mengemban amanat rakyat terlebih lagi amanat rakyat yang hakiki berupa kemerdekaan hati nurani rakyat. Terakhir, dengan menjadi seorang wartawan, Roehana leluasa memperjuangkan nasib perempuan supaya tidak terus ditindas oleh aturan adat serta perlakuan diskriminatif. Roehana berkehendak memenangkan perjuangan perempuan, dan itulah yang dilakukannya melalui Soenting Melajoe.

Dominasi sajian Soenting Melajoe menekankan pentingnya perempuan menempuh pendidikan, baik pendidikan formal, pendidikan keluarga, juga pendidikan untuk bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada lelaki. Tulisan-tulisan Roehana cukup tajam, bahkan berulangkali menyerang adat Minangkabau yang dinilainya telah usang, tak relevan lagi dengan kemajuan zaman. “Saya terutama sekali menulis mengenai segi keagamaan dan keharusan adat Minangkabau, khususnya Kotogadang, yang mengubah sikap mereka mengenai perempuan,” tegas Roehana. Tulisannya banyak bercerita ihwal kehidupan perempuan dari lapisan menengah ke bawah. Roehana sangat paham tentang keadaan ini karena dalam lingkungan inilah dia menjalani kehidupan.

Roehana juga kerap menyoroti nasib perempuan di negara miskin dan negara terjajah. Dalam artikel berjudul “Perempoean” yang dimuat di Soenting Melajoe edisi 13 Desember 1918, Roehana menggugat nasib kaum perempuan India yang merana akibat terkekang aturan adat. Keadaan kaum perempuan India memang sangat mengenaskan, bahkan diperlakukan tidak manusiawi. Ketika sedang menstruasi, mereka diasingkan karena dianggap sebagai makhluk yang kotor lagi najis. Inilah yang digugat Roehana bahwa perempuan selalu saja menjadi tumbal atas nama norma adat. Berikut sedikit nukilan tulisan Roehana itu:

Perempuan bangsa Hindu di tanah Hindustan sebelah utara dan Hindustan sebelah tengah amatlah rendah sekali derajatnya dan tiada berhak apa-apa. Perempuan Hindu itu waktu di masa berkain kotor sekali sebulan. Jangankan berhak tidur dalam bilik, sedangkan akan tidur dalam rumah saja, di luar bilik pun tiada boleh, melainkan harus tinggal di beranda-beranda rumah saja atau di dapur dengan tidak boleh masuk ke dalam rumah, sebab dia berkain kotor itu dipandang bernajis badannya, tidak boleh masuk rumah.

Gugatan Roehana kian bernyali, kali ini tulisan galaknya ditujukan terhadap kaum pria yang selama ini hanya menjadikan perempuan berada di bawah kuasa mereka. Roehana menginginkan keadilan. Dia tidak mau kaumnya hanya diperlakukan sekadar sebagai pelengkap, pemuas nafsu yang kebetulan memiliki fungsi reproduksi. Roehana memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan, karena menurut Roehana, perempuan bersama laki-laki adalah unsur pembangun bangsa. Dalam artikelnya yang bertajuk “Mentjari Isteri”, Roehana menulis untuk kaum keturunan Adam:

Wahai, tuan-tuan! Ketahuilah oleh tuan-tuan, bahwa perempuan itu sunting permainan. Janganlah tuan pilih perempuan (sama gadis atau janda) yang panjang rambut dan licin kening saja, tetapi wajiblah tuan-tuan ingat buah yang manis itu banyak berulat. Biarlah kita mendapat lembayang buruk kulit sebab daripada rupawan. Wajib pula kita ketahui dan cari perempoean yang setiawan, gunawan nantilah hartawan, bangsawan dan tempawan. Menurut pikiranku yang bodoh ini, di antara jang banyak itu lebih baik benar kita mendapat istri setiawan dan gunawan.

Aksi berani Roehana ternyata menuai kecam dari kubu seberang. Suatu ketika, Roehana mendapat kiriman surat kaleng berisi cacian. “Perempuan tak perlu banyak ulah, kenapa harus mencari perkara dengan pemikiran dan kegiatan yang tak penting?! Bukankah selama ini perempuan tak lebih hanya seorang ibu rumah tangga belaka?! Sekarang mau bersaing pula dengan laki-laki. Ada-ada saja!” begitu bunyi surat galak bernada bias gender tersebut.

Surat makian kepada Roehana itu sebenarnya merupakan reaksi atas tulisan keras Roehana tanggal 29 September 1924, yang berjudul “Giliran Zaman” di mana dia mempertanyakan daya juang pergerakan yang mulai lembek. “Sesungguhnya jika dipikir sepintas lalu, hendaklah orang menaruh pengertian tentang putih-merahnya, lunak kerasnya jalan sikap pergerakan rakyat pada suatu negeri. Ukuran merk stempelnya adalah tergantung pada keadaan papan nasib penduduknya di tempat atau di negeri di mana timbul itu pergerakan jua adanya,” kritik Roehana. Artikel inilah yang kemudian memantik reaksi kurang terima dari beberapa kalangan, bahkan dari aktor-aktor pergerakan itu sendiri.

Roehana tak takut, justru hasratnya terpacu, hasrat seorang perempuan yang tak boleh bertingkah macam-macam, perempuan yang dilarang menyaingi kaum lelaki. Surat itu datang gara-gara sepak-terjang emansipasi Roehana, juga aksi beraninya menggugat pemerintah kolonial. Roehana mulai melakukan agitasi terhadap kaumnya untuk turut andil dalam perjuangang pergerakan nasional, bahkan berpolitik sebagai senjata melawan kaum penjajah.

Meski cenderung keras dalam urusan emansipasi perempuan, namun Roehana tak serta-merta jadi gelap mata. Roehana masih memegang teguh kodrat asali perempuan, yakni sebagai ujung tombak dalam mengurus rumah tangga dan keluarga. Untuk itu, Roehana selalu menghimbau agar kaum perempuan tak jemu menimba ilmu supaya kaum perempuan menjadi golongan yang tangguh, pandai mengelola keluarga tanpa selalu menggantungkan diri terhadap suami. Roehana menganjurkan:

Rajin-rajinlah dan tetaplah hati saudara-saudara setiap hari menuntut ilmu, karena ilmu itu telah bersendi kemajuan bagi pihak beberapa bangsa. Sungguh pada masa ini sudah nyata abad ke 20 dan zaman kemajuan. Mulai laki-laki dan perempuan, sama akan dimajukan. Sebab kemajuan itu tak hanya pendapat pada pihak laki-laki saja. Pihak perempuan berkemajuan juga, bangsaku perempuan hendaknya juga dimajukan, jangan sekali ditinggalkan di belakang. Kepandaian itu amat berguna bagi saudara kami laki-laki juga perempuan. Sekali lagi, anak perempuan harus terus disekolahkan!

Selain mengupas ihwal perempuan, Soenting Melajoe juga mengangkat peristiwa politik maupun kriminal yang terjadi di tanah Melayu, juga yang terjadi di dunia internasional. Keunikan Soenting Melajoe adalah kala terbitnya yang tak lazim: saban 9 hari. Dengan harga perbulan sebesar f 0,25 untuk Hindia Belanda dan f 0,40 untuk luar negeri, koran yang diterbitkan penerbit Snelpersdrukkerij ini mampu menjadi penempa wanita Minangkabau dengan sapaan manisnya.

Soenting Melajoe diterbitkan dari Padang namun Roehana tak perlu berpindah domisili. Dari Kotogadang, Roehana tetap bisa mengendalikan redaksi Soenting Melajoe, yakni cukup dengan mengirim tulisan selama sepekan dan berkoordinasi dengan awak redaksi di Padang. Roehana menulis dengan tulisan tangan karena dia merasa masih nyaman dengan gaya konvensional ini, selain tidak memiliki dan belum mahir menggunakan mesin ketik. Kecuali aktif dan produktif dalam menulis, Roehana turun langsung mencari bakat terpendam para perempuan yang gemar menulis ke pelosok-pelosok, serta mengusahakan dibukanya biro-biro Soenting Melajoe di berbagai tempat untuk memudahkan distribusinya.

Untuk menarik koresponden berpartisipasi, Roehana memuat kolom khusus berisi ajakan agar kaum perempuan bersedia menyumbang tulisan. Dalam kolom tersebut ditulis, bahwa tulisan yang dikirim tak harus artikel panjang lagi serius, syair pun diterima dengan senang. “Betapalah senang hati hamba, kalau saudara sepertinya sua, sama-sama turut menggoyangkan pena selalu menampakkan diri di medan ini. Memimpin teruskan sepanjang maksud daya yang nyata ada haluan amat bagus sekali,” demikian ajakan yang terpampang di Soenting Melajoe. Berkat militansi Roehana yang tak kenal letih, peredaran Soenting Melajoe tak hanya di ranah Minang saja, tetapi juga hingga ke seluruh Sumatra, bahkan sampai ke Jawa. Soenting Melajoe, misalnya, memiliki kontributor dari Batavia dan Semarang.

Berkat peran vitalnya dalam menggalang keberlangsungan Soenting Melajoe, nama Roehana melambung ke panggung pers nasional dengan fokus pemberitaan tentang perempuan. Sebagai pedagog sekaligus jurnalis, nama Roehana kemudian dikenang-kenang sebagai jurnalis pertama perempuan Pribumi karena dia juga terlibat langsung dalam membangun manajemen pers di dekade kedua abad ke-20 itu. “Soerat Kabar Perempuan di Alam Minangkabau”, demikian jargon yang diusung Soenting Melajoe. Jargon ini senafas dengan perjuangan Soenting Melajoe mengangkat harkat perempuan, utamanya adalah bagaimana mendudukan posisi yang sejajar dengan kaum laki-laki di dalam dunia pergerakan.

Tak jemu-jemu Roehana menuntut agar hak-hak kaum Hawa tidak terlalu ditekan. Roehana berjuang sekuat tenaga melalui bidang yang dikuasainya: pendidikan dan pers. Melalui media surat kabar, pergerakan Roehana lebih leluasa dalam melancarkan kritikan dan sentilan pedas kepada pihak-pihak yang tak ingin kaum perempuan memperoleh kemajuan. Sebagai ransum untuk memperkaya wawasannya sebagai seorang guru sekaligus jurnalis, Roehana terus membekali dirinya dengan membaca surat kabar pergerakan, seperti Fadjar Asia, Modjopahit, Goentoer Bergerak, juga Sinar Djawa/Sinar Hindia. Koran-koran ini kebanyakan adalah corong pergerakan yang dimotori para pejuang generasi muda yang berdarah-darah menentang penjajahan.

Selain bersama Soenting Melajoe, Roehana juga terlibat dalam beberapa koran lainnya. Pada 1913, di samping pekerjaaan utamanya sebagai pemimpin redaksi Soenting Melajoe, Roehana juga menjadi awak Saoedara Hindia, yang diterbitkan di Kotogadang, tempat Roehana bermukim. Selanjutnya, pada 1920, saat Roehana menetap di Medan sembari mengajar pada sekolah Dharma Putra, dia membantu penerbitan surat kabar Perempoean Bergerak.

Perempoean Bergerak, koran terbitan Deli, juga mengusung semangat feminisme kendati tetap memuat sajian rumah tangga, sopan-santun, keluarga, penjagaan anak, pergaulan sehari-hari, dan masak memasak. Segmen pembacanya pun juga ditujukan bagi laki-laki. Argumentasinya, kemajuan perempuan dan bangsa hanya akan tercapai dengan kerjasama antara laki-laki dan perempuan. Perempoean Bergerak dipelopori para aktivis perempuan ternama kala itu, antara lain Boetet Satidjah, Anong S Hamidah, Siti Sahara, Ch Baridjah, TA Safariah, dan Siti Satiaman. Nama terakhir yang disebut adalah pemimpin redaksi sekaligus istri dari jurnalis terkemuka, Parada Harahap. Roehana sempat pula menjadi redaktur surat kabar Radio dan Tjahaja Sumatra yang diterbitkan di Padang. Namun, meski sudah kenyang berbagai pengalaman di dunia pers, Soenting Melajoe tetap saja menjadi ciri yang paling lekat pada diri Roehana sebagai seorang jurnalis.

Roehana setia mengawal Soenting Melajoe dari awal hingga pungkas. Sejak Soenting Melajoe pertama kali diluncurkan sampai koran ini berhenti terbit pada 1921, posisi Roehana sebagai motor utama penggeraknya tak tergantikan. Sembilan warsa yang dilakoni Roehana bersama Soenting Melajoe bukanlah waktu yang sebentar, tak banyak koran yang bisa bertahan selama itu dalam kurun dekade kedua abad ke-20 tersebut. Berkat kegigihan dan komitmen Roehana demi kemajuan kaum perempuan, Soenting Melajoe mampu melangsungkan perjuangannya selama sembilan tahun itu.

Usia Panjang Sang Pejuang

Dia sejatinya bernama asli Siti Roehana. Nama tambahan Koedoes didapatnya setelah menikah dengan Abdoel Koedoes Gelar Pamoentjak Soeltan pada 1908. Sang suami masih terhitung keponakan ayah Roehana. Abdoel Koedoes adalah lelaki terpelajar, wartawan, sekaligus aktivis pergerakan. Betapa senangnya hati Roehana mendapat pasangan hidup yang seiring sejalan dan sangat mendukung aktivitasnya. Abdoel Koedoes adalah anggota Insulinde, organisasi pengganti Indische Partij (IP).

Abdoel Koedoes juga seorang jurnalis surat kabar Tjahaja Soematra selain sering menulis untuk koran-koran lain. Keahlian jurnalisme sang suami inilah yang kelak akan membuat Roehana semakin gandrung menulis dan berjuang lewat medan pers. Ideologi perjuangan Abdoel Koedoes juga sangat mempengaruhi pendewasaan karakter seorang Roehana, terutama dalam hal sikap politiknya terhadap kesewenang-wenangan kaum penjajah. Abdoel Koddoes sendiri memiliki pribadi yang berani dan tegas. Kendati dia memperoleh pendidikan hukum, suami Roehana itu lebih memilih menjadi notaris partikelir karena tak sudi mengabdi untuk pemerintah kolonial.

Roehana menyadari posisi pemerintah kolonial selaku penjajah kendati dia banyak berkawan dengan orang-orang Belanda sejauh itu memberi manfaat posisitf bagi pergerakannya. Bersama suaminya, Roehana semakin tajam dalam menilai setiap ketidakadilan yang dilakukan antek-antek kolonial, sehingga tanpa tedeng aling-aling Roehana memberanikan diri bergerak melawan lewat tulisan, pendidikan, maupun pergerakan organisasi. Menepis anggapan bahwa selama ini Kotogadang cenderung pro terhadap Belanda, Roehana menampik dengan menjelaskan bahwa orang Kotogadang hanya sekadar belajar mencuri kunci bagaimana mengadakan perubahan, termasuk lewat pendidikan. Setelah tercapai maksud, orang Kotogadang bukan menggadai harga diri tapi merebut kebebasan.

Roehana dan suami ternyata cukup cocok dengan Soetan Sjahrir yang tak lain adalah adik tiri Roehana. Mereka bertiga memiliki jiwa yang sama, melawan dan tidak takut menentang pemerintah kolonial. Menurut keyakinan ketiganya, perantauan dari ranah Minang merupakan unsur paling dinamis di antara manusia Indonesia baru, utamanya di Medan tempat mereka menetap kala itu. Medan di waktu itu sama riuh dan berkembangnya dengan Batavia, Surabaya, dan Semarang, alias masuk jajaran empat kota besar di Hindia Belanda. Medan menjadi wilayah yang paling tersentuh nuansa modern di antara daerah-daerah lain di Sumatra.

Pasangan Siti Roehana dan Abdoel Koedoes dikarunia anak lelaki semata wayang yang diberi nama Djasman. Ketika beranjak dewasa, Djasman mengikuti jejak sang ibu dengan mengabdikan diri sebagai guru. Ketika kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, usia Roehana sudah menginjak 61 tahun. Saat Belanda datang lagi dan melancarkan agresi militer pasca proklamasi kemerdekaan RI, Roehana turut membantu dengan tulisannya yang membakar semangat juang para pemuda. Roehana juga ikut mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan yang sedang berjuang mempertahankan Republik. Roehana juga mencetuskan ide untuk menyusupkan senjata dari Kotogadang ke Bukitinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payakumbuh dengan kereta api.

Ketika Indonesia menerima pengakuan kedaulatan pada 1949, Roehana kembali ke Kotogadang karena sang suami, Abdoel Koedoes, mulai sakit-sakitan, hingga akhirnya wafat. Sepeninggal suaminya, Roehana kembali ke Medan, tinggal bersama Djasman. Umurnya yang sudah renta tak memungkinkan lagi untuk terus mengajar dan menulis surat kabar. Di masa senjanya, Roehana masih sempat menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat. Membaca dan menjahit, serta mencatat diari adalah aktivitas keseharian Roehana.

Nenek pemberani ini sempat tinggal di Jakarta. Pada 1958, Djasman ditugaskan ke London, Inggris, selama 2 tahun. Tak mungkin bagi Roehana untuk ikut. Karena itu, dia memutuskan menetap di Jakarta, bersama keponakannya, sembari menunggu kepulangan Djasman. Ketika sang putra tercinta kembali ke tanah air, Roehana terus tinggal bersama Djasman kendati beberapa kali berpindah kota mengikuti daerah tugas. Djasman sempat ditugaskan ke Surabaya selama 2 tahun sebelum ke Jakarta lagi.

Pada 17 Agustus 1972, tepat ketika seluruh rakyat Republik Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-27, Siti Roehana Koedoes meninggal dunia di Jakarta pada usia 88 tahun. Jenasahnya dimakamkan di pemakaman umum Karet, Jakarta. Tak banyak perempuan Indonesia seperti Roehana, apalagi pada masa hidupnya yang sarat ketidakadilan yang dialami kaum perempuan. Siti Roehana Koedoes, seorang perempuan yang tak pernah mengecap pendidikan formal tapi sanggup melakukan hal-hal besar demi perubahan: mendirikan sekolah perempuan, membentuk organisasi perempuan, serta menerbitkan surat kabar perempuan. Bukan kebetulan, di ranah Sumatra, Roehana adalah sang pemulanya.

Penutup

Roehana Koedoes memegang peran yang cukup sentral dalam lalu lintas riwayat pergerakan perempuan di Minangkabau khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Roehana merupakan perempuan Minangkabau yang mencoba menaburkan benih pembebasan perempuan dari teologi bias gender. Pergerakan-pergerakan pemberdayaan perempuan yang dilakukan Roehana adalah simbol manifestasi perjuangan kaum perempuan dari adat dan realita yang tidak seimbang memandang perempuan itu sendiri.

Roehana mempunyai komitmen yang kuat pada pendidikan terutama untuk kaum perempuan. Pada zamannya, Roehana termasuk salah satu dari segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk mendapat pendidikan, adalah tindakan semena-semena dan harus dilawan. Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Roehana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan.

Dalam upaya mengubah paradigma masyarakat Minangkabau terhadap pendidikan bagi perempuan, Roehana tidak kenal lelah berikhtiar. Dengan bijak, Roehana mengakui bahwa perputaran zaman tak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Akan tetapi, yang mesti dilakukan adalah bahwa perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Emansipasi yang ditawarkan Roehana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya. Perempuan juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan, untuk itulah diperlukannya pendidikan bagi kaum perempuan.

Perjuangan Roehana untuk memajukan kaum perempuan dilakukan dengan mendirikan sekolah dan menerbitkan suratkabar khusus perempuan. Selain menjadi seorang pendidik, Roehana adalah perempuan Indonesia pertama yang dengan sadar menjalani rutinitias kesehariannya sebagai seorang jurnalis, dengan kata lain, Roehana adalah wartawati pertama di Indonesia. Sebagai bentuk pengabadian atas jasa-jasanya, pada 1974 pemerintah daerah Sumatra Barat memberi penghargaan kepada Roehana sebagai wartawati pertama Indonesia. Pemerintah pusat Orde Baru tidak mau kalah, pada peringatan Hari Pers Nasional ke III, 9 Februari 1987, Roehana dianugerahi gelar sebagai perintis pers Indonesia.

Selanjutnya, pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut menggenapkan gemilang jasa yang ditorehkan Roehana dengan menganugerahkan Bintang Jasa Utama kepada Roehana atas jasa-jasanya dalam perjuangan bangsa melalui dunia jurnalistik. Penghargaan yang diberikan pada 16 Februari 2008 itu diserahkan melalui Gubernur Sumatra Barat, Gamawan Fauzi, dan diterima keluarga Roehana Koedoes yang diwakili cucunya, Juneydi Juni, pada acara puncak Hari Pers Nasional tingkat Sumatra Barat di Istana Negara Bung Hatta, Bukittinggi.

Daftar Pustaka:

AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007,

Fitriyanti, Roehana Koeddoes:Perempuan Sumatera Barat, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2001.

Iswara N Raditya dan Muhidin M Dahlan (Eds.), Karya-karya Lengkap Tirto Adhi Soerjo: Pers Pergerakan dan Kebangsaan, Jakarta: IBOEKOE, 2008.

M Balfas, Dr Tjipto Mangoenkoesoemo: Demokrat Sedjati, Jakarta: Djambatan, 1952.

Muhammad Safrinal (Ed.), Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi, Yogyakarta: Ekspresibuku, 2006

Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008.

Petrik Matanasi (Ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008
Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula, Jakarta: Lentera Dipantara, 2003.

Rudolf Mrazek, Sjahrir:Politik dan Pengasingan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1996.

Tamar Djaja, Roehana Koddoes, Srikandi Indonesia, Jakarta: Penerbit Mutiara, 1980.

Artikel dalam Buku

Dian Andika Winda, “Perempoean Bergerak: Dari Deli untuk Kesetaraan, “dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008, hlm. 148.

Hajar NS, “Siti Roehana Koedoes: Ibu Pers dan Pergerakan Indonesia”, dalam Petrik Matanasi (Ed.), 7 Ibu Bangsa, Jakarta: Rahzenbook, 2008, hlm. 186.

Hajar NS, “Siti Roehana Koedoes: Membaca Surat kabar Seperti Meminum Air Laut”, dalam dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007, hlm. 38.

Iswara N Raditya, “Datoek Soetan Maharadja: Penghulu Adat Berkiblat Barat”, dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007, hlm. 24.

M Yuanda Zara, “Oetoesan Melajoe: Koran Utusan Kaum Adat”, dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008, hlm. 73.

Reni Nuryanti, “Soenting Melajoe: Di sini, Nama Roehana Koedoes Terpahat”, dalam Muhidin M Dahlan (Ed.), Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanahair Bahasa (1907-2007), Jakarta: IBOEKOE, 2008, hlm. 91

Rhoma Dwi Aria Yuliantri, “Parada Harahap: King of The Java Press”, dalam AN Ismanto (Ed.), Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, Jakarta: IBOEKOE, 2007, hlm. 88.

St Kartono, “Masih Ada Guru”, dalam Muhammad Safrinal (Ed.), Sang Guru: Peta Ringkas Hubungan Guru-Murid di Pelbagai Tradisi, Yogyakarta: Ekspresibuku, 2006, hlm. 20.

Iswara N Raditya, peneliti di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) dan Redaktur Sejarah http://www.MelayuOnline.com, tinggal di Yogyakarta.

~ oleh Akang Muhib pada 12/04/2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: