Jejak Langkah (Buku III Roman Sejarah Tetralogi Pulau Buru)

“Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu. Semua puji-pujian untukMu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan.”

Kisah perjuangan seorang Minke sebagai aktivis dalam hal tulis menulis untuk melawan penjajahan kolonial sangat kental ditayangkan oleh Pramoedya pada novel Jejak Langkah ini, sebagai kelanjutan dari cerita sebelumnya pada novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Cerita Minke pada novel ini diawali dengan kedatangannya ke Betawi pada awal abad ke 20 untuk melanjutkan sekolahnya di sekolah Kedokteran Hindia, STOVIA (bahasa Belandanya School tot Opleiding van Indische Artsen). Sebagai pendatang baru di Betawi tentu semua yang ia saksikan pertama kali di Betawi segala menakjubkan bila dibandingkan dengan kota Surabaya. Minke menggambarkan Kota Betawi dihiasi gedung bertingkat dengan kereta api yang canggih, dengan segala pemandangan tentang Ancol dan Kali Ciliwung.

Hari pertama kedatangan Mink ke Betawi sudah dihadiahi pengalaman yang sangat berarti dalam hidupnya. Baru beberapa jam datang ke sekolahnya STOVIA dia telah diundang oleh kawan lamanya seorang wartawan De Locomotief bernama Ter Haar untuk menghadiri undangan dari anggota Tweede Kamer. Tentu undangan ini tidak untuk sembarang orang. Atas dasar itu pula kepala sekolah mengizinkan Minke untuk menghadiri pertemuan tersbut. Sebagai satu-satunya Pribumi yang menghadiri pertemuan itu, Minke merasa bagaikan ‘monyet’ salah kandang. Namun di akhir pertemuan itu Minke mendapat kesempatan untuk bertanya kepada pembesar yang hadir yang dalam hal ini adalah Generel van Heutsz and Ir. Van Kollewijn. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Minke untuk melontarkan kritik pedasnya. Ketika diskusi menyangkut kerja bebas Minke bertanya “…tentang kerja bebas itu, Yang terhormat Anggota Tweede Kamer, apa juga berarti bebas mengucil dan mengusir petani yang tak mau menyewakan tanahnya pada pabrik Gula?”. Pertanyaan ditujukan kepada Anggta dewan Tweede Kamer yang hadir  khusunya Ir. Van Kollewijn. Tentu saja hal ini membuat berang yang ditanya yang menjadikan pertemuan itu menjadi memanas. Itulah Minke, yang selalu mampu menarik perhatian para penjajah colonial.

Walaupun  terlambat datang untuk pendaftaran dari waktu yang telah ditentukan oleh sekolah, Minke mampu mengerjar ketertinggalan pelajarannya berkat bantuan teman-temannya. Namun nampaknya menjadi siswa STOVIA membuahkan begitu banyak pertanyaan dalam dirinya. Jiwa aktivisnya untuk melawan penjajah tetap saja membara. Bahkan ia juga ‘melawan’ aturan-aturan yang menurutnya tidak pas. Sangat banyak aturan-aturan yang tidak ia suakai dari berpakaian ‘kebangsaan’ jawa tulen hingga tingkah polah teman-temannya yang kadang-kadang sangat tidak menunjukkan ke-intelektualan mereka sebagai calon dokter terpelajar. Hingga ia sampai pada kesimpulan bahwa ia tidak cocok barada di sekolah tersebut. Setelah enam bulan terikat di asrama, sedikit agak longgar bagi para siswa diperbolehkan untuk ‘pelesiran’ pada hari sabtu dan minggu. Minke bagai kerbau di lepas ke padang rumput. Dia memperoleh kesempatan untuk ‘mengembara’ sesuai keinganannya. Ketika kawan-kawan memilih untuk mencari calon mertua dan anak-anak gadis atau juga menggundik, dia malah memilih rumah Ibu Badrun seorang janda tua sebagai tempat ia mangkal ketika akhir pekan. Dia jadikan rumah tersebut sebagai alamat surat menyurat. Waktu ini pulalah ia teringat untuk memberikan surat teman lamanya yang meninggal di Surabaya dibunuh gerombolan Thong. Surat itu ditujukan kepada Ang san Mei. Dengan bantuan berita di Koran ia menemukan gadis cina tersebut. Singkat cerita dia pun menikahi gadis pejuang kaum muda China tersebut.

Namun sayang perjalanan perkawinan yang penuh dengan semangat perjuangan kaum aktivis muda tersebut harus berahir dengan sad ending. Mei ternyata tidak mampu bertahan lama dengan penyakit yang ia derita, karena waktu pertama kali bertemu dengan Minke Mei sudah dalam keadaan sakit, bahkan sakit parah. Minke telah menyelamatkan nyawanya waktu itu. Di akhir-akhir hidupnya Mei diurusi secara intensif oleh Minke yang membuat Minke banyak bolos meninggalkan pelajaran sekolah, ditambah lagi kegiatannya terhadap tulis menulis. Hal ini tentu saja telah melanggar aturan sekolah yang ketat dan feodalistik. Mei tidak mampu bertahan dan akhirnya mininggal dunia. Dan malangnya lagi tidak lama setelah kematian Mei, Minke pun harus dikeluarkan berdasarkan keputusan komita dewan guru. Ditambah lagi, Minke harus mengganti rugi uang pemerintah selama ia sekolah di sana lebih dari 2.970 goden. Jadilah ia sebagai siswa drop out STOVIA.

Dipecat dari STOVIA merupakan titik balik dari perjuangan Minke sesungguhnya untuk menjadi ‘manusia bebas’. Baginya pemecatan itu merupakan  rahmat dan pintu pembebasan dari belenggu-belengu aturan yang mengikat jiwa bebasnya. Terinspirsi oleh mantan istrinya Mei, Ter Haar, dan Dokter Jawa yang pernah memberikan ceramah di sekolahnya dulu, ia mulai memberanikan diri untuk berorganisasi. Kata-kata Ter Haar membahana di ruang kepalanya “perjuangan di jaman modern membutukah cara-cara yang modern pula: berorgaisasi”. Tapi saat itu Minke tidak tahu bagaimana harus memulainya.

Tidak lama kemudian mulailah berpikir keras untuk memulai berorganisasi. Dia kumpulkan kawan-kawannya dari STOVIA untuk membicarakan hal ini, namun gagal. Para siswa STOVIA tersebut tidak peduli dengan yang namanya berorganisasi. Mereka lebih memilih untuk mementingkan sekolah dan mempersiapkan diri sebagai doketer gobermen yang notabenenya tunduk pada kolonialisme yang bercokol. Minke pun kemudian berkelana mencari dukungan untuk membuat sebuah organisasi. Dia datang lagi kepada Bupati Serang yang juga ternyata menolaknya sebagaimana dia pernah menolak dokter jawa beberapa tahun sebelumnya. Syukurlah kemudian ia bertemu dengan Wedana Mangga Besar Thamrin Mohammad Thabrie dan Patih Meester Cornelis yang menyambut baik idenya untuk mendirikan sebuah organisasi pribumi. Maka dibentuklah Syarikat Prijaji. Tidak lama kemudian Minke mendirikan majalah mingguan Medan. Namun sayang karena persoalan idiologi ‘prijaji’ yang tidak mengakomodir semua pribumi, organisasi Syarikat Prijaji tidak berkembang dengan baik. Namun Minke tidak pernah mengenal putus asa untuk mendirikan organisasi yang mampu menghimpun semua kepentingan pribumi dari berbagai kalangan. Maka tidak lama kemudian berdiri pula Syarikat Dagang Islamiyah. Betul juga, organisasi ini berkembang dengan pesat bahkan hingga keluar Pulau Jawa, walaupun pada akhirnya harus terpecah dua karena berbagai kepentingan internal organisasi tersebut.

Di lain pihak Medan mengalami perkembangan yang amat sangat pesat. Medan benar-benar menjadi ‘dewa’ penyelamat banyak orang. Minke pun kembali menikah untuk yang ke tiga kalinya. Ia menikah dengan Prinses Kasiruta, anak raja Ambon yang di buang ke Sukabumi, Jawa Barat. Prinses kemudian sangat membantu Minke dalam aktivitasnya berorganisasi dan mengurusi Medan. Sementara itu di Medan orang bebas menyampaikan aspirasi dan pengaduan-pengaduan terhadap ketidak adilan dan kesewenang-wenangan pemerintah terhadap pribumi. Medan memiliki penasahat hukum, Hendrik, yang selalu siap menyelesaikan perkara-perkara hukum yang menimpa pribumi. Tiras Medan melambung hingga mengalahkan Koran colonial waktu itu. Minke benar-benar mendapatkan dunia yang ia inginkan. Tulisan-tulisannya yang tajam dan berbobot melalui Medan telah membuat ia begitu penting bagi pribumi. Di lain sisi Medan dan Minke menjadi ancaman nyata bagi Gobermen. Hal ini pulalah yang membuat Minke beberapa kali mendapat ancaman baik secara politik maupun secara fisik. Beberapa kali ia lolos dari pembunuhan.

Untuk pengurusan Medan Minke dibantu oleh orang-orang kepercayaannya yaitu Marako, Sandiman, dan Hendrik. Keberhasilan Medan tentu saja selalu manjadi incaran kaum penguasa untuk dibumi hanguskan dengan berbagai cara. Di akhir cerita novel ini, setelah menyerahkan kepengurusan Medan kepada orang-orang kepercayaannya itu dan menyerahkan SDI kepada M. Thabrie, Minke kemudian ditangkap dan dibuang ke Maluku atas dasar telah mengkritik Gobermen melalui Medan. Kesimpulannya, novel Jejak langkah ini telah dikarang dengan apik oleh Pramoedya Ananta Toer untuk menggambarkan bagaimana perjuangan Minke melaui organisasi dan surat kabar dalam menumbuhkan semangat dan benih nasionalisme di kalangan pribumi. Minke mampu membentuk dan membangun opini public akan kejahatan colonial yang harus dilawan dan diperangi. Disini juga jelas sekali bagaimana pers telah berperan sangat signifikan terhadap kebangkitan bangsa dan rasa kebangsaan (nationhood), cikal bakal sebuah nation yang bernama INDONESIA.

Secara umum buku ini memaparkan sejarah awal berdirinya organisasi pribumi Hindia pertama. Tokoh-tokoh yang dihadirkan membuat dasar pemikiran tokoh utama untuk membentuk organisasi. Istrinya merupakan salah satu tokoh pendukung organisasi raksasa itu. Konflik-konflik yang dihadirkan muncul berurutan seiring dengan perkembangan Sarekat Dagang Islam atau SDI yang kian meluas dan memberikan pengaruh terutama terhadap perusahaan-perusahaan besar milik Eropa. Pemerintah Hindia merasa terancam akan kehadiran SDI yang kemungkinan di kemudian hari dapat melahirkan gerakan nasionalisme menggeser Pemerintah kolonial dari tanah Hindia.

Diceritakan pula karakter hampir semua tokoh-tokoh memiliki sifat daya juang tinggi, anti kemalasan dan kebodohan, berani menghadapi resiko sebesar apapun untuk kepentingan bangsanya.

~ oleh Akang Muhib pada 12/04/2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: