Nyai Ontosoroh : Ibu Yang Melawan Ketidakadilan

“Baru aku bertemu seorang, dan perempuan pula, yang tidak mau berdamai dengan nasibnya sendiri.”

Perempuan yang dimaksud itu seorang gundik Belanda yang dijual oleh ayahnya sendiri demi harta dan kekayaan. Namanya Sanikem, tetapi orang-orang Wonokromo dan Surabaya mengenalnya sebagai Nyai Ontosoroh. Seorang Perempuan yang berani melawan keangkuhan hukum Belanda.

Ungkapan itu pula dilontarkan oleh seorang perempuan Belanda, Magda Petters yang bekerja sebagai guru di jaman kolonial Belanda. Ia datang ke rumah Nyai Ontosoroh atas undangan Minke, muridnya. Pertemuan pertama itu telah membuat dirinya berdecak kagum pada seorang perempuan pribumi yang memiliki kesadaran tinggi akan hak- haknya, berani menyatakan pendapat dan tidak takut dengan kekeliruan. Nyai Ontosoroh katanya lagi adalah seorang perempuan yang berani melawan setiap penindasan yang menimpa diri dan keluarganya. Dialah perempuan yang menebar semangat melewati jaman. Guru Belanda yang memihak pribumi itu benar-benar kewalahan menghadapi Nyai Ontosoroh.

Nyai Ontosoroh atau Sanikem adalah anak dari seorang juru tulis pada pabrik gula di Tulangan bernama Sastrotomo. Dia termasuk tipe laki-laki yang gila kuasa dan kekayaan. Dihormati karena satu-satunya orang yang mampu baca tulis di desa. Sostrotomo bercita-cita menjadi seorang juru bayar. Sayangnya, untuk mencapai cita-cita itu tak segan menjilat dan berkhianat. Singkat cerita, ia sanggup melakukan apa saja untuk menggapai capai cita-citanya. Pucuk dicinta ulam pun, seorang pengusaha Belanda paruh baya bernama Herman Mellema datang ke rumah dan menebar janji. Sastrotomo meminta Sanikem berdandan secantik mungkin di hadapan tamunya itu. Sementara sang ibu menangis tersedu-sedu di sudut ruangan. Sanikem sudah curiga. Tapi ia tetap menjalankan titah ayahnya. Laki-laki mana yang tidak suka melihat kecantikan dan keindahan tubuh Sanikem.

Herman Mellema tergiur. “Secepatnya saja kowe antar anak itu ke tempat saya. Saya janji akan memberi imbalan yang memuaskan kowe: Juru Bayar dan gulden. Hehehehee…” katanya kepada ayah Sanikem. Kebahagiaan Sastrotomo pun terpancar. Sebentar lagi ia akan menjadi orang terhormat. Dihormati para pedagang, mandor, buruh, orang Eropa dan Peranakan meskipun harus membayar mahal dengan menjual anak gadisnya yang baru berumur 14 tahun.

Sanikem dijadikan gundik atas kehendak ayahnya sendiri. Inilah awal kebencian Sanikem kepada ayahnya. Inilah awal bagaimana dendam itu menghiasi hidupnya. Hidup sebagai gundik tak ubah budak belian yang setiap waktu harus memuaskan tuannya. Dalam segala hal. Dan setiap waktu bisa dicampakkan bila sang tuan sudah merasa bosan dan tak membutuhkannya lagi. Orang-orang tanah Jawa menyebut gundik dengan kata yang halus, Nyai.

Namun sayangnya saat itu kata ‘Nyai’ seringkali dikaitkan dengan hal- hal yang negatif. Bahkan merujuk pada orang [perempuan] bermoral rendah. Meski Nyai melahirkan anak dari seorang Eropa, pemerintah Hindia Belanda saat itu tidak pernah menganggap perkawinan itu syah. Pemerintah Hindia Belanda hanya mengakui anak tapi tidak bagi perempuan pribumi yang dijadikan gundik. Disinilah letak tidak manusiawinya hukum Eropa kepada manusia lainya. Masyarakat hanya melihat secara kasat mata bahwa kehidupan seorang nyai bisa dibilang enak, bergaul dengan bangsa Eropa, dan tinggal di rumah mewah.

Tapi benarkah? Semua itu tidak berarti bagi Sanikem yang telah merasa harga dirinya direbut. Ia dendam kepada orang tuanya. Lantas ia berusaha bangkit dengan belajar segala pengetahuan Eropa. Dia belajar tata niaga, belajar bahasa Belanda, membaca media Belanda, belajar budaya dan hukum Belanda. Sebab dia berharap pada suatu hari semua pengetahuan itu akan berguna untuk dirinya dan anak-anaknya. “Aku harus buktikan pada mereka, apapun yang telah diperbuat atas diriku, aku harus bisa lebih berharga daripada mereka, meskipun hanya sebagai nyai. Sekarang Sanikem sudah mati, yang ada adalah Nyai Ontosoroh.”

Een Buitengewoon Gewoone Nyai Die Ikke Sensualitas dan kepiawaian mengurus perusahaan “Boerderij Buitenzorg” milik suaminya membuat Nyai Ontosoroh menjadi buah bibir penduduk Wonokromo dan Surabaya.

Nyai Ontosoroh memiliki seorang anak perempuan bernama Annelies Mellema yang pernah diperkosa oleh abangnya sendiri Robert Mellema. Annelis Mellema berwajah cantik dan kekanak-kanakan. Trauma itu membuat jiwanya rapuh, sulit bergaul dan selalu berlindung di balik kebesaran ibunya. Khusus kepada Annelies, Nyai Ontosoroh menginginkan sang anak seperti dirinya. Kuat menghadapi setiap persoalan.

Nyai Ontosoroh memiliki seorang pengawal yang setia bernama Darsam. Orang Madura yang selalu membawa clurit ini siap 24 jam melindungi Nyai Ontosoroh sekeluarga dari serangan siapa pun. Sementara suami dan anak laki-lakinya hanya tahu berpesta dan datang ke rumah pelacuran milik Babah Ah Tjong. Kedua laki-laki ini sama sekali tak berarti di hadapan nyai. Bahkan takluk.

Kepiwaian Nyai Ontosoroh membuat Minke, seorang siswa HBS, menuliskan sosok wanita ini di koran Belanda. Tulisan itu berjudul Een Buitengewoon Gewoone Nyai Die Ikke, dalam bahasa Indonesia berarti Seorang Nyai Biasa Yang luar Biasa Yang Aku Kenal. Ia benar-benar kagum dengan Nyai yang satu ini. Kelak di kemudian hari anak muda ini melawan penindasan kolonial Belanda melalui surat kabar Medan Priyayi.

Konflik pun terjadi di rumah Nyai. Suaminya, Herman Mellema dibunuh. Statusnya sebagai penguasa pabrik goyah. Dia sadar dirinya gundik yang tidak memiliki hak sedikit pun untuk memiliki perusahaan termasuk anaknya sendiri. Tapi ia tak mau menyerah begitu saja. Lantas bangkit melawan untuk mempertahankan haknya. Tapi apa daya, sekuat apa pun melawan, Nyai Ontosoroh hanya seorang Nyai. Dia benar-benar tak berkutik di hadapan hukum kolonial Belanda.

Siang itu saat matahari menyinari, warna duka terlebih dulu menyelimuti rumah Nyai Ontosoroh. Mereka kalah di hadapan peradilan kolonial Belanda. Annelies Mellema diambil oleh orang- orang Belanda. Minke kekasihnya tak mampu berbuat banyak. Semua orang melepas kepergian Annelies dengan duka. Takdir tak bisa dilawan.

“Kita sudah melawan, Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Begitulah akhir dari kisah perjuangan seorang gundik Belanda bernama Nyai Ontosoroh yang melawan peradilan kolonial Belanda. Ibu ini telah dinistakan bukan hanya oleh hukum kolonial Belanda tetapi juga oleh masyarakat pribumi tempat dimana ia dibesarkan. Ketidakadilan ini membuat Nyai Ontosoroh kehilangan segala- galanya.

Diskriminasi Masih Terjadi
Di dalam karya sastra banyak penulis menghadirkan sosok nyai sebagai tokoh utama cerita. G Francis pada tahun1896 misalnya menulis tentang sosok perempuan bernama “Nyai Dasima”. Penulis ini mencitrakan sosok nyai yang bermoral rendah. Nyai Dasima, perempuan dari Kampung Koeripan meski sangat dicintai oleh tuannya, Edward W, tetap berselingkuh dengan Baba Samioen dari Kampung Pedjambon. G. Francis menceritakan nyai dalam citra perempuan yang bermoral rendah.

Begitu pula dalam cerita “Si Tjonat” karya F.D.J Pangemanann, tokoh nyai bernama Saipa yang berasal dari Desa Tjirenang pun berprilaku buruk. Bermain serong, mencuri uang tuannya dan kabur bersama si Tjonat, babu di rumahnya.

Dari cerita-cerita itu banyak perempuan tak ingin lagi dipanggil nyai. Perubahan baru terjadi ketika Sutartinah Sastraningrat, isteri dari Ki Hajar Dewantara, pada 2 Mei 1928 melepaskan gelar kebangsawanan kemudian membubuhkan namanya menjadi Nyai Hajar Dewantara.
Kisah Nyai Ontosoroh yang mengawali tulisan ini dapat kita temukan di dalam buku “Bumi Manusia” [1980] karya Pramudya Ananta Toer.

Istilah Nyai dalam bahasa Sunda berarti perempuan dewasa. Namun sayang pada zaman kolonial Belanda istilah Nyai berkonotosi negatif. Kata nyai saat itu untuk menggambarkan seorang perempuan yang bodoh, jorok, bermoral rendah, pelacur, gundik, selir, atau wanita piaraan para pejabat dan serdadu Belanda. Perempuan yang menjadi nyai biasanya dijual oleh keluarganya sendiri demi mendapatkan harta dan jabatan. Tidak sedikit pula karena ekonomi yang sulit banyak perempuan saat itu rela dijadikan sebagai selir Belanda. Sialnya, seorang nyai tidak mengenal perkawinan sah di hadapan hukum Belanda.

Biasanya para nyai mengenakan pakaian yang jauh lebih baik ketimbang perempuan pribumi kebanyakan. Nyai mengenakan pakaian bersulam emas, giwang yang terbuat dari berlian, kalung emas dan perhiasan mahal lainnya. Namun hidup seorang nyai tak berbeda dengan seorang budak dengan kemasan yang menggiurkan.
Pramudya menolak penggambaran nyai ini.

Melalui tokoh Nyai Ontosoroh, Pram menghadirkan sosok perempuan yang kuat, pintar dan melindungi keluarga. Tokoh ini tidak genit ketika bertemu dengan laki-laki, tidak mencoba merayu laki-laki Belanda atau menjual tubuhnya agar persoalan menjadi beres.

Nyai Ontosoroh merupakan harmonisasi dari paras dan rupa Timur yang elok dengan keuletan, keberanian, dan kepintaran seorang perempuan Eropa.

Meski perempuan sekarang sudah menjadi presiden, anggota parlemen, menteri, guru, pengusaha dan sebagainya. Namun di beberapa kasus lain, kenyataannya, masih banyak perempuan yang nasibnya seperti yang dialami Nyai Ontosoroh. Diskriminasi masih terjadi, dan itu semakin kompleks.

Persoalan perempuan menjadi persoalan bangsa.***

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pesona, Edisi 7, Maret 2007

~ oleh Akang Muhib pada 19/03/2011.

2 Tanggapan to “Nyai Ontosoroh : Ibu Yang Melawan Ketidakadilan”

  1. Ya, pram menggambarkan tokoh satu ini dengan apik. Mantap. Saya lagi mencoba menghabiskan tetralogi buru karya sastrawan besar ini.

  2. Terima kasih untuk tanggapannya. Selain Tetralogi Bumi manusia, msh banyak karya-karya besar Pram yang layak untuk dibaca. Salah satunya sebagai bahan perbandingan sejarah yang pernah dialami rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: