Asal Kata ‘Preman’

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata “preman”. Kata ini begitu akrab diucapkan dan didengar masyarakat terutama di perkotaan. Dalam pengertian masyarakat, preman diartikan sebagai orang atau sekelompok orang yang dekat dengan kekerasan dalam kesehariannya.

Untuk membedah kata PREMAN, harus dipelajari juga perkembangan jaman dan peradaban manusia. Dalam masyarakat feodal tidak dikenal watak budaya preman. Kelahiran preman ini biasanya ditandai dengan perkembangan masyarakat dari agraris (feodal) ke industri (kapitalis). Pada tahap transisi ini biasanya muncul kata Preman.

Kata Preman

Dalam wacana Sosiologi tidak dikenal kata preman. Dalam sosiologi, masyarakat hanya mengenal tiga golongan:
1. Kelas atas atau berjuis. Biasanya kriteria kelas ini adalah pengusaha besar atau konglomerat.
2. Kelas menengah. Seperti: kaum intelektual, pedagang kecil, petani dan kaum miskin kota (preman biasanya diposisikan ke dalam kaum marjinal perkotaan ini).
3. Kelas bawah atau biasa disebut Proletariat. Kelas bawah ini tidak punya kepemilikan apa-apa, seperti Buruh Industri, buruh perkebunan dll.

Orang seringkali salah dalam menganalisa makna atau ucapan yang berkembang di masyarakat. Preman dikonotasikan identik dengan keburukan yang lahir begitu saja sebagai sebuah takdir. Sebagian sosiolog tidak mengidentifikasikan Kekerasan sama dengan Preman dalam komunitas yang berkembang di masyarakat. Faktor-faktor kekerasan muncul seiring perubahan masyarakat. Faktor transisi budaya ini pada akhirnya menimbulkan penokohan-penokohan baru.

Preman akan lebih menarik jika dikaji dari segi Budaya. Saat masyarakat Indonesia mengalami perubahan dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri berdampak pada munculnya Pengangguran. Pengangguran ini adalah mereka yang tidak bekerja di sektor agraris, industri maupun sektor non formal lainnya. Di perkotaan, sekelompok pengangguran ini biasanya lebih dekat dikenal sebagai kaum miskin perkotaan.

Pengangguran atau kaum miskin perkotaan ini menjadi bagian dari efek negatif Pembangunan. Dari sini untuk mengaburkan kata pengangguran dan kebebasan maka dibuat semacam pembenaran dengan menyebut kata Preman (yang berasal dari kata “Free Man”).

Hal ini sama dengan budaya yang timbul di beberapa negara Industri di barat. Budaya hipis dan sebagainya yang mengagungkan Kebebasan diciptakan untuk mengaburkan ketimpangan dari struktur sosial ekonomi yang terjadi.

Kita bisa melihat munculnya masyarakat bebas di tahun-tahun 60-an dan 70-an yang ditandai dengan generasi bunga (Flower Generations). Jamannya Elvis, Beattles dan Deep Purple.

Perkembangan kelompok ini akhirnya diwadahi untuk kepentingan-kepentingan yang tidak jelas dalam setiap jaman. Sampai di sini sebagian besar kelas menengah banyak yang salah mengartikan tentang makna “Kebebasan”.

Tidak banyak pemikiran (isme) yang dikemukakan untuk mengkategorikan objek sosial dengan mengatakan “Premanisme”. Karena dalam konteks kekerasan, biasanya kolompok sosial ini dikategorikan dalam kelompok Anarkis, Vandalis, dan sebagainya. Akar dari semua itu adalah munculnya budaya politik Kekuasaan yang diusung Machiavelli.

Kalau mau diakui, sejak jaman ORBA hingga sekarang, elit politik kita mayoritas masih berkubang dalam budaya kekerasan. Dan harus disadari ‘premanisme’ kelompok marjinal perkotaan hanyalah dampak dari sebuah sistem yang sangat merugikan bagi kelompok ini sendiri, karena mereka sering dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir elit politik saja.

~ oleh Akang Muhib pada 19/03/2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: