Stop Agresi Militer Israel-AS ke Palestina!

Korban jiwa terus berjatuhan, perang agresi harus dihentikan! Kemerdekaan penuh bagi Rakyat Palestina!

Dukung Perjuangan Pembebasan Rakyat Palestina dan Arab Melawan Zionist Israel-Imperialisme AS!

Kawasan Timur tengah (Timteng) tengah membara akibat agresi militer pasukan Zionist Israel ke Gaza Palestina. Setidaknya 1000 lebih warga Palestina telah tewas, (mayoritas perempuan & anak-anak) dan lebih dari 4000 jiwa yang mengalami luka-luka. Konflik mulai meluas dengan serangan Lebanon ke Israel. Apa di balik prahara yang tengah melanda Jalur Gaza?

Serangan Israel ke Palestina telah mendatangkan simpati kemanusiaan dari berbagai Negara, baik melalui kecaman kepala-kepala Negara hingga aksi-aksi protes menentang agresi Israel di berbagai belahan dunia. Aksi-aksi protes banyak dilakukan Negara dan umat muslim di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Benarkah agresi militer Israel ke Palestina merupakan perang muslim versus (Vs) Yahudi? Bukankah umat Nasrani Palestina turut menjadi korban agresi militer Israel? Bukankah protes menentang agresi militer Israel juga berdatangan dari kaum Yahudi Israel? Mengapa, Liga Arab, PBB dan Amerika Serikat (AS) berdiam diri saja?

Konflik Israel-Palestina Bukan Perang Agama

Kawasan Timteng merupakan jalur strategis yang menghubungkan Asia, Afrika Utara, dan Eropa,   menyimpan banyak sumber-sumber minyak dan tempat kelahiran bagi tiga pengikut agama besar di dunia yaitu Nasrani, Yahudi dan Islam. Mayoritas rakyat di kawasan Timteng adalah kaum Arab dan penganut agama Islam, hingga dikenal juga sebagai Jazirah Arab. Rakyat di kawasan ini memiliki sejarah panjang hidup dalam penindasan dan perlawanan terhadap kolonialisme-imperialisme barat. Wajar saja, jika sentimen anti barat sangat mengental di kalangan bangsa dan rakyat Arab.

Ternyata, tidak semua Yahudi setuju dengan zionisme.

Bangsa Israel-Yahudi telah terusir dari tanahnya sejak dikalahkan kerajaan Romawi. Mereka lalu tersebar di daratan Eropa dan melakukan asimiliasi (pembauran). Jazirah Arab lalu dikuasai kerajaan Islam yang berpuncak pada masa kekuasaan Ottoman Turki. Ketika Perang Dunia (PD) I, Kerajaan Ottoman kalah oleh kolonialisme Inggris. Bersama Prancis, Inggris membagi-bagi wilayah Timteng menjadi wilayah jajahannya. Salah satunya wilayah yang dipersengketan Palestina dan Israel saat ini.

Di akhir abad 19, Gerakan anti semit/Yahudi meluas di Eropa, salah satunya melalui program Pogrom (pembasmian Yahudi) yang dilakukan Raja Tsar Rusia. Kelompok ultra-nasionalis (nasionalisme sempit-sovinisme) Yahudi pimpinan Theodore Herzel, lalu mendeklarasikan kelahiran “zionisme”. Kelompok ini adalah kelompok garis keras Yahudi, yang bercita-cita mengembalikan bangsa Israel ke tanah asalnya dan kedigdayaan Yahudi. Keinginan memiliki tanah sendiri mencapai puncaknya, ketika holocaust (pembantaian) terhadap bangsa Yahudi oleh Nazi Jerman di masa PD II. Gerakan zionisme pun semakin meluas di Eropa dan AS.

Setelah berakhir PD II, kaum Zionist meminta bantuan imperialisme AS—satu-satunya Negara imperialis yang selamat dari PD II—untuk membantu mereka mendapatkan kembali tanahnya di Jazirah Arab. Sebagai imbalannya, kaum Zionist bersedia membantu niat imperialisme AS menguasai dunia. Kesediaan Zionist Israel, karena mereka sebagian besar merupakan klas borjuasi monopoli di Eropa dan AS. Imperialisme AS melalui PBB kemudian menyokong berdirinya negara Israel, 14 Mei 1948. Tujuannya menjadikan Israel sebagai “negara satelit” AS untuk menghalangi kepentingan borjuasi nasional Arab yang anti imperialisme AS, sekaligus memerangi gerakan pembebasan nasional bangsa dan rakyat Arab di kawasan Timteng paska PD II. Saat itu, gerakan pembebasan nasional tengah meluas di Asia, Afrika dan Amerika Latin, termasuk Timteng.

Pada 1957, Zionist Israel melakukan agresi militer dengan dukungan imperialisme AS. Zionist Israel berhasil mendapatkan wilayah Arab yang meliputi sebagian besar wilayah Mesir, Lebanon, Suriah, Yordania, dan Palestina. Selain memperluas wilayah Negara Israel, perang agresi ini juga ditujukan untuk menghancurkan kekuasaan politik pimpinan Nasionalis Mesir, Gamal Abdul Nasser dan sekutunya. Dengan demikian, imperialisme AS bisa mendapatkan Terusan Suez yang menjadi jalur transportasi strategis di Timteng. Sejak saat itu, konflik Negara-negara Arab Vs Zionist Israel-imperialisme AS terus berlangsung.

Dalam perkembangannya, penyelesaian konflik Arab-Israel banyak ditempuh melalui jalur diplomasi dengan sponsor imperialisme AS. Imperialisme AS berhasil menyingkirkan pengaruh dan kekuasaan politik pimpinan-pimpinan Arab yang anti imperialisme AS dan menyokong berdirinya rejim-rejim komprador Arab melalui bantuan ekonomi dan persenjataan. Upaya pecah belah persatuan bangsa dan rakyat Arab, juga dilakukan dengan menciptakan konflik bersenjata seperti perang Iran-Irak, Irak Kuwait dan konflik lainnya di sekitar perbatasan Timteng. Imperialisme AS juga membina jaringan kelompok militan Islam garis keras sepertiAl-Qaeda. Itu dilakukan untuk memperburuk citra perjuangan pembebasan nasional bangsa dan rakyat Arab dari cengkraman Zionist Israel-Imperialisme AS, sekaligus legitimasi bagi imperialisme AS untuk terus mencampuri konflik di Timteng. Jadi, imperialisme AS-lah biang kerok utama dari konflik yang terus berlangsung di Jazirah Arab.

Dalam agresi Zionist Israel ke Palestina saat ini, imperialisme AS mendukung dengan bantuan pesawat F-16, helikopter Apache dan bantuan artileri dari kapal laut yang digunakan untuk membunuh ratusan orang dan melukai ribuan rakyat Palestina di Gaza, menghancurkan tempat tinggal, rumah ibadah, sekolah, bangunan publik, pom bensin, insatalasi listrik, fasilitas air bersih dan infra struktur lainnya.

Sekali lagi, ini bukanlah perang Islam Vs Yahudi? Tidak semua kaum Yahudi merupakan pengikut Zionist. Banyak warga Yahudi dan Rabbi (pemuka agama Yahudi) yang juga menentang Zionisme. Mereka-lah yang gencar berkampanye menuntut penghentian perang agresi Israel terhadap Palestina dan Negara-negara Arab lainnya. Jika benar perang agama, mengapa pimpinan-pimpinan Negara Arab yang sebagian besar muslim, justru berdiam diri atas tragedy di Gaza? Raja Arab Saudi membiarkan negerinya menjadi tempat bagi pangkalan militer AS, yang selama ini digunakan untuk menyerang rakyat Arab. Begitu juga Liga Arab yang sangat mandul dan lebih memilih jalur kompromi, dan betapa pengecutnya Mesir yang membiarkan pengungsi Palestina terlantar di perbatasan.

Krisis overproduksi menuntun imperialisme AS untuk terus mengobarkan perang agresi

Perang Agresi : Jalan Keluar Krisis Umum Imperialisme

Petaka kemanusiaan di Palestina, tidak terlepas dari perkembangan krisis umum imperialisme. Krisis umum imperialisme telah menyeret dunia dalam krisis minyak (energi), krisis pangan, krisis lingkungan, krisis keuangan dan krisis ekonomi global. Sejak tahun 2000, imperialisme (terutama imperialisme AS) mengalami over produksi (kelebihan produksi barang) berteknologi tinggi dan persenjataan. Untuk mengatasi hal ini, imperialisme AS membagi kembali wilayah dunia agar bisa mendapatkan sumber-sumber ekonomi (bahan mentah) untuk dimonopoli, pasar bagi barang-barang produksi berlebihnya, sekaligus mendapatkan cadangan buruh murah.

Semua itu dilakukan dengan merampok kesejahteraan buruh dan rakyat di negeri-negeri imperialis di satu sisi, di sisi lain dengan meningkatkan penghisapan ekonomi dan melancarkan perang agresi terhadap negeri-negeri terbelakang atau bergantung di kawasan Asia, Amerika Latin, termasuk Negara-negara Arab di Timteng. Negeri-negeri terbelakang atau bergantung adalah negeri yang didominasi secara politik oleh imperialisme dan masih menyisakan sistem feodalisme (monopoli tanah secara luas oleh tuan tanah) yang menjadi basis sosial atau sumber utama bagi imperialisme untuk hidup dan mendapatkan keuntungan (merampok sumber-sumber kekayaan alam). Negeri terbelakang atau bergantung, disebut juga sebagai negeri jajahan/setengah jajahan dan setengah feudal. Indonesia adalah salah satu negeri terbelakang tersebut.
Hal di atas dilakukan imperialisme dalam bentuk kerjasama-kerjasama ekonomi yang tidak adil, utang luar negeri, bantuan-bantuan kemanusiaan, kebudayaan dan kemiliteran. Imperialisme mampu melakukan ini semua, karena disokong rejim-rejim komprador (antek) yang menjadi kaki tangannya di negeri-negeri bergantung atau terbelakang. Di Indonesia, rejim SBY-JK adalah bukti nyata dari rejim komprador atau bonekanya imperialisme.

Jika penghisapan imperialisme mendapatkan perlawanan keras dari rakyat atau pemerintahan yang anti imperialisme, perang agresi akan dilancrkan atas negara tersebut. Perang agresi juga menjadi jawaban bagi imperialisme—terutama imperialisme AS—untuk mengatasi over produksi persenjataan agar laris manis di pasaran. Sebagai catatan, produksi persenjataan AS mengambil porsi 2/3 dari total produksi barang AS. Sementara belanja militer AS adalah yang terbesar dari seluruh negeri imperialis di dunia. Inilah fakta yang sesungguhnya dibalik agresi militer AS ke Afghanistan, Irak dan serangan Zionist Israel-imperialis AS ke Gaza saat ini.

Provokasi Perang Terhadap Teror

Serangan ke Palestina juga untuk memprovokasi kelompok-kelompok militan Islam dan Negara-negara Arab yang dianggap memiliki kaitan dengan jaringan terorisme. Paska penyerangan gedung WTC, 11 September 2001, di New York, imperialisme AS melancarkan kampanye perang terhadap terorisme (war on terror). Kampanye ini sesungguhnya ditujukan untuk meredam setiap kekuatan yang menentang imperialisme AS, baik gerakan pembebasan nasional, kelompok-kelompok militan Islam ataupun Negara-negara yang menghalangi kepentingan imperialisme AS di seluruh dunia.

Kawasan Timteng menjadi salah satu target, karena banyaknya kelompok militan Islam dan Rakyat Arab yang anti AS, serta keberadaan Iran yang dianggap akan sangat mengganggu kepentingan AS di kawasan Timteng untuk mendapatkan wilayah pengaruh, sumber-sumber minyak dan perluasan pangkalan sekaligus instalasi militer AS.

Iran dan HAMAS Palestina telah dijadikan AS dalam daftar hitam Negara dan kelompok yang memiliki hubungan dengan jaringan teroris. Tahun lalu, AS berencana memerangi Iran ketika tawaran resolusi PBB untuk menghentikan pengembangan teknologi nuklir ditolak Iran. HAMAS dicap teroris dan AS tidak mengakui kemenangan HAMAS dalam pemilu di Palestina dan melakukan politik belah bambu rakyat Palestina dengan mendukung pemerintah boneka Mahmoud Abbas dari Fatah.

Mengenai Iran, sejak pemerintahan Ahmadinedjad berkuasa, imperialisme AS terus berupaya merongrong kekuasaannya. Ahmadinedjad adalah sosok borjuasi nasional Arab yang anti imperialisme AS dan Zionist Israel. Sejak berkuasa, Ahmadinedjad mengembangkan teknologi nuklir Iran, yang dianggap AS berbahaya. Imperialisme AS kemudian memaksa PBB mengeluarkan resolusi kepada Iran untuk menghentikan pengembangan teknologi nuklirnya. Ahmadinedjad juga mendukung setiap gerakan anti Zionist Israel dan imperialisme AS di Timteng, termasuk dukungannya kepada HAMAS. Di samping itu, Ahmadinedjad juga menjalin aliansi internasional anti imperialisme AS dengan pemimpin Venezuela, Hugo Chaves.

Agresi ke Gaza, diharapkan akan memancing balasan dari kelompok-kelompok militan Islam di Timteng dan menyeret Iran untuk ikut berperang. Jika provokasi berhasil, imperialisme AS memiliki legitimasi untuk turut campur, dengan dalih misi perdamaian dunia, penghentian pengembangan teknologi nuklir berbahaya dan perang terhadap terorisme, seperti yang dilakukan AS terhadap Afghanistan dan Irak.

Arah menuju ke sana semakin terlihat. Pemerintah Zionist Israel telah menyatakan tidak akan menghentikan serangan ke Palestina. Sementara AS, terus menambah bantuan militer ke Israel mulai Januari 2009. Resolusi Dewan Keamanan PBB juga tidak dituruti Israel dan konflik mulai meluas dengan terlibatnya Lebanon. Tentu saja masih ada Suriah, Yordania, Mesir dan Iran tentunya, sebagai incaran agresi imperialisme AS-zionist Israel. Artinya, Jazirah Arab akan semakin membara. Kita pun akan sering disajikan tontonan tragedi kemanusiaan dan kekejaman perang agresi imperialisme AS-Zionist Israel di tanah para Nabi tersebut.

Perkuat Solidaritas Internasional, Dukung Pembebasan Rakyat Palestina

Penderitaan rakyat Palestina, sesungguhnya mencerminkan kondisi umum rakyat tertindas lainnya di negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan. Hanya saja saat ini, imperialisme AS tengah menjadikan Palestina dan negeri-negeri Arab sebagai target utama kebiadaban mereka. Rakyat negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan akan bernasib sama, jika perjuangan rakyat untuk bebas dari belenggu imperialisme berlangsung sengit dan hebat.

Di negeri-negeri dimana rakyat tertindas saat ini tengah gigih berjuang untuk pembebasan nasional dan demokrasi, tindasan imperialisme melalui rejim boneka-nya tak kalah kejamnya dengan agresi imperialisme AS-Zionist Israel di Gaza. Itulah yang tengah menimpa rakyat di Filipina, Turki, India, Afghanistan, Pakistan, Sri lanka, Bangladesh, Peru ataupun Kolombia. Rakyat harus menghadapi tindakan fasisme (terorisme negara) rejim boneka yang terus menindas, menembaki dan membunuh rakyat yang berjuang untuk mendapatkan hak-haknya.

Di Indonesia, fasisme juga tengah mengancam. Itu terlihat dengan meningkatnya kekerasan terhadap kaum tani di pedesaan yang berjuang mendapatkan haknya atas tanah, larangan menggunakan pengeras suara dalam demonstrasi, pembubaran paksa aksi-aksi massa dan pengekangan kebebasan berserikat bagi organisasi-organisasi massa sejati yang memperjuangkan kepentingan massa-nya. Gerakan massa di Indonesia harus mewaspadai hal ini dengan mempersipkan diri untuk perjuangan massa yang lebih hebat, maju, keras dan penuh pengorbanan, guna menghadapi rejim boneka imperialisme di Indonesia.

Menyadari hal di atas, penting bagi rakyat tertindas di Indonesia untuk memperkuat solidaritas internasional anti imperialisme. dengan memperkuat gerakan pembebasan rakyat di negeri kita sekaligus mendukung segala tindakan maju rakyat negeri-negeri lainnya yang berjuang melawan imperialisme dan rejim boneka-nya. Atas dasar itu, kita harus mendukung upaya rakyat Palestina dan Arab melawan kekejaman Zionist Israel-imperialisme AS.

20 Januari 2009 : Rakyat Dunia Mengecam Kebiadaban Imperialisme AS-Zionist Israel

20 Januari 2009, seluruh mata dunia akan tertuju di Gedung Putih, Washington DC. Hari itu, Barack Obama (pemenang pemilu presiden AS) akan dilantik sebagai Presiden AS yang baru. Anak menteng ini akan melakukan pidato inaugurasinya sebagai kepala Negara resmi AS. Barack Obama memenangkan Pemilu Presiden AS dengan janji akan mengatasi krisis ekonomi di AS, membantu terciptanya perdamaian dunia dan tetap melancarkan perang terhadap terorisme.

Perlu diketahui, selama AS dipimpin dan dikuasai borjuasi monopoli, semua kampanye Obama hanya lip service atau omong kosong belaka. Selain kehendak rakyat yang telah muak dengan pemerintahan Bush dari Partai Republik, kemenangan Obama tidak terlepas dari limpahan dana borjuasi monopoli AS. Kekuasaan Obama ke depan tetap akan mewakili kepentingan borjuasi monopoli AS dan mempertahankan kepentingan imperialisme AS menguasai dunia.

Sejak serangan Zionist Israel ke Gaza, 27 Desember 2008, Obama tidak berkata sepatah pun. Obama juga mempertahankan orang-orang lama dari Kabinet Bush di bidang ekonomi dan pertahanan-keamanan dalam Kabinet yang disusunnya. Orang-orang ini sangat bertanggung jawab atas derita rakyat Irak, Lebanon, Irak, Afghanistan, kemiskinan dan kemelaratan rakyat di berbagai belahan dunia oleh kerakusan imperialisme AS.
Momentum pelantikan Barack Obama adalah momentum penting bagi rakyat seluruh dunia untuk menyatakan penghentian perang agresi imperialisme AS-Zionist Israel ke Palestina, stop perang terhadap Terorisme dan melanjutkan perjuangan rakyat seluruh negeri untuk membebaskan diri dari belenggu imperialisme dan rejim boneka-nya. ###

~ oleh Akang Muhib pada 16/01/2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: